Merti Umbul Temantem di Lereng Merapi Tradisi Leluhur Penjaga Sumber Air Hingga ke Kota Yogyakarta
ToegoeNews
0:00 / 0:00
Merti Umbul Temantem di Lereng Merapi Tradisi Leluhur Penjaga Sumber Air Hingga ke Kota Yogyakarta
43 просмотра · 12 дней назад
ToegoeNews
3 подписчика
43 просмотра · 12 дней назад
Tradisi budaya dan pelestarian lingkungan kembali berpadu dalam gelaran Merti Umbul Temanten yang berlangsung di kawasan lereng Gunung Merapi, Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, Sabtu (20/6/2026).
Kegiatan tahunan yang telah berlangsung secara turun-temurun ini menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas keberadaan sumber mata air Umbul Temanten yang selama ini menjadi penopang kehidupan warga di lereng Merapi hingga Kota Yogyakarta.
Ketua Panitia sekaligus Kamituwa Kalurahan Umbulharjo, Misman S.Ag, menjelaskan bahwa Umbul Temanten memiliki keunikan tersendiri karena terdiri dari dua sumber mata air yang dikenal sebagai Umbul Wadon dan Umbul Lanang.
"Hari ini kita menggelar kegiatan yang sudah melegenda setiap tahun, yaitu Merti Umbul Temanten. Disebut Umbul Temanten karena di lokasi tersebut terdapat Umbul Wadon dan Umbul Lanang," ujarnya.
Tradisi tersebut diikuti masyarakat dari tiga kalurahan, yakni Kalurahan Umbulharjo, Kalurahan Kepuharjo, dan Kalurahan Hargobinangun, serta mendapat dukungan dari para pengguna air, baik masyarakat sekitar maupun masyarakat Kota Yogyakarta yang turut merasakan manfaat sumber mata air tersebut.
Rangkaian acara diawali dengan kirab budaya yang menampilkan Bergada Prajurit Argo Taruno, dilanjutkan kenduri di kawasan Umbul Wadon, doa bersama, penanaman pohon, hingga prosesi pengambilan air sebagai simbol kepedulian terhadap pelestarian sumber kehidupan.
"Tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena lebih meriah dengan adanya iringan kirab Bergada Argo Taruno," kata Misman.
Menurutnya, kenduri yang digelar merupakan tradisi leluhur masyarakat lereng Merapi yang telah diwariskan sejak lama sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan sumber daya alam yang diberikan.
"Tujuan kegiatan ini agar sumber mata air tetap lestari dan terus memberikan manfaat bagi masyarakat lereng Merapi bahkan sampai Kota Yogyakarta," tambahnya.
Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia mengusung tema "Tirto Bening Mahanani Ati Wening, Ngrumat Toyo Kanggo Lestantuning Gesang."
Tema tersebut mengandung makna bahwa air yang jernih mampu menghadirkan kejernihan hati dan pikiran, sekaligus menjadi pengingat pentingnya merawat sumber air demi keberlangsungan kehidupan.
"Wujud rasa syukur itu tidak hanya melalui doa, tetapi juga diwujudkan dalam pelestarian lingkungan dan semangat gotong royong. Air yang diambil dalam prosesi ini menjadi pengingat bahwa sumber kehidupan harus terus dirawat agar memberi manfaat bagi generasi mendatang," jelas Misman.
Selain prosesi adat, pada malam harinya masyarakat juga menggelar pagelaran wayang kulit yang melibatkan seniman lokal sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi dan pelestarian budaya masyarakat setempat