Перейти к содержимому

Panggil Kami ke Tanah Suci

PENA SADUIK

0:00 / 0:00

Panggil Kami ke Tanah Suci

83 просмотра · 5 дн. назад
PENA SADUIK
16 подписчиков
83 просмотра · 5 дн. назад
Di tengah keramaian dunia yang terus bergerak, ada seorang Muslim yang hatinya selalu terikat pada satu rindu yang tak pernah padam: keinginan untuk menjejakkan kaki di tanah suci Mekkah. Baginya, Haji bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan panggilan jiwa yang sudah lama bergema di dalam dada. Setiap kali mendengar azan, setiap kali membaca ayat-ayat tentang Baitullah, hatinya bergetar seolah sudah berdiri di depan Ka’bah. Ia bukan orang yang sempurna. Ia punya dosa, punya kelemahan, punya masa lalu yang ingin ia hapus dengan air mata tobat di tanah yang suci itu. Namun justru karena itulah ia begitu mendambakan Haji. Ia ingin berdiri di antara jutaan saudara seiman, mengenakan kain ihram yang sama, melafalkan talbiyah dengan suara yang sama: “Labbaik Allahumma labbaik…” Dalam diamnya, ia sering membayangkan: Bagaimana rasanya mencium Hajar Aswad atau sekadar melambaikan tangan ke arahnya dengan penuh harap. Bagaimana rasanya mengelilingi Ka’bah sambil menangis memohon ampunan. Bagaimana rasanya berdiri di Arafah, tempat di mana doa-doa paling tulus dilambungkan ke langit. -Bagaimana rasanya melempar jumrah sebagai simbol perlawanan terhadap setan yang selama ini menggoda. Ia menabung pelan-pelan, menahan diri dari hal-hal yang tidak perlu, dan terus berdoa agar Allah memberinya kemampuan, kesehatan, dan izin untuk menunaikan rukun Islam yang kelima itu. Baginya, Haji adalah puncak cinta. Cinta kepada Allah yang ingin ia sampaikan langsung di rumah-Nya.