Перейти к содержимому

KI NARTO SABDHO - 'BIMA BUNGKUS'

Bram Palgunadi

0:00 / 0:00

KI NARTO SABDHO - 'BIMA BUNGKUS'

52 696 просмотров · 13 лет назад
Bram Palgunadi
42,4 тыс. подписчиков
52 696 просмотров · 13 лет назад
Dari masa lampau (sekitar tahun 1970-an) kita berkesempatan mendengarkan dan menikmati kembali pagelaran wayang kulit purwa yang bisa tidak hanya mengingatkan kembali berbagai kenangan masa itu, tetapi bahkan bisa menghidupkan kembali berbagai kenangan indah masa lampau, yang berhubungan dengan pagelaran wayang kulit purwa yang indah, sangat klasik, dan sangat tradisional. Tahun-tahun itu, adalah masa awal keemasan Ki Narto Sabdho almarhum dengan grup keseniannya yang sangat terkenal, yaitu Condong Raos. Pagelaran wayang kulit purwa dari masa lampau ini, menceritakan proses peristiwa kelahiran Radyan Bima-Sena (Radyan Werkudara), salah satu dari kelima kerabat Pandhawa, yang sejak lahir tubuhnya terbungkus selaput pelindung dan tidak bisa terbuka, meskipun sudah dilakukan berbagai upaya. Cerita ini, tidak terlalu dikenal di kalangan masyarakat, karena menceritakan masa-masa awal kehidupan kerabat Pandhawa Lima. Sementara kalangan masyarakat umumnya lebih mengenal lakon-lakon wayang yang menceritakan masa dewasa kerabat Pandhawa. Karena rasa cintanya kepada permaisurinya, Dewi Madrim; Prabu Pandhu-Dewayana ingin sekali memenuhi permintaan Dewi Madrim, yaitu menaiki kendaraan milik Sang Hyang Bathara Guru, Lembu Andini. Untuk itu, Prabu Pandhu Dewayana bahkan mengucapkan sumpah di hadapan Sang Hyang Bathara Guru, bahwa ia bersedia hanya mengenyam kebahagiaan dalam waktu yang sangat singkat, dan kemudian ia bersedia menerima hukuman dari Sang Hyang Bathara Guru. Ia menyatakan bersedia dihukum mati dengan cara dimasukkan ke dalam Kawah Candra-Dimuka. Bahkan Prabu Pandhu Dewayana juga menyatakan, bahwa jika ia diijinkan meminjam dan menaiki Lembu Andini, maka dirinya menginginkan agar saat menaiki Lembu Andini, bisa disaksikan oleh Sang Hyang Bathara Guru. Dua pernyataan ini, dianggap merupakan sikap sombong, selain melanggar pranata Kahyangan. Kesombongan Prabu Pandhu Dewayana, membuat Sang Hyang Bathara Guru merasa tidak nyaman dan marah, meskipun ia mengijinkan Lembu Andini dipinjam oleh Prabu Pandhu Dewayana. Menurut Sang Hyang Bathara Guru, tidaklah selayaknya seorang raja besar seperti Prabu Padhu Dewayana bersikap dan mengumbar sikap sombong, seakan-akan hanya dialah satu-satunya manusia yang berhasil meminjam dan mengendarai Lembu Andini. Prabu Pandhu Dewayana yang sudah berhasil membawa Lembu Andini menemui permaisurinya, Dewi Madrim. Dan mereka berdua menikmati menaiki Lembu Andini lalu terbang ke angkasa. Dalam keadaan lupa diri karena berbagai kenikmatan duniawi yang dialaminya, mereka berdua melakukan hubungan suami-isteri di atas punggung Lembu Andini. Beberapa saat kemudian, Lembu Andini turun ke bumi dan Prabu Dewayana dan Dewi Madrim meneruskan hubungan suami-isterinya di hutan. Tanpa diketahui, ada dua ekor kijang yang sedang memaduh kasih di balik perdu. Dewi Madrim dan Prabu Pandhu Dewayana, merasa dirinya sedang diintip oleh kedua kijang itu. Akibatnya, Dewi Madrim dan Prabu Pandhu Dewayana merasa malu. Kedua kijang itu dipanah oleh Prabu Pandhu Dewayana. Kedua kijang itu ternyata berubah menjadi dua orang manusia, seorang 'resi' (pria) dan 'endhang' (wanita). Akibat dipanah, sang resi ternyata meninggal. Sedangkan sang 'endhang' masih hidup. Akibat, perbuatannya itu Prabu Pandhu Dewayana dikutuk oleh sang 'endhang'. Bunyi kutukannya, seluruh anak-turun Prabu Pandhu Dewayana akan mengalami hidup penuh kesusahan. Di tempat lain, ada seekor gajah yang bernama Gajah Sena, yang merupakan keturunan Gajah Herawana (gajah kesayangan Bathara Endra). Ia sedang bertapa dan menginginkan masuk surga. Saat Gajah Sena sedang bertapa, datanglah Bathara Bayu, yang memberikan petunjuk supaya ia menolong bayi Bima Sena yang masih terbungkus selaput pelindung. Ia diminta memecahkan bungkus tubuh bayi Bima. Setelah itu, ia diberitahu bahwa ia nanti akan dibunuh oleh Bima. Peristiwa itu, akan merupakan jalan untuk mencapai surga. Dalam suatu kesempatan, masuklah ke dalam bungkus pelindung, Bathara Bayu lalu memberikan pakaian dan kelengkapan kesaktian kepada bayi Bima Sena. Gajah Sena yang berusaha memecahkan bungkus bayi, akhirnya terbunuh oleh Bima Sena; dan sukmanya menyatu ke dalam tubuh Bima Sena. Oleh Bathara Bayu, Bima diberi gelar 'Radyan Brata Sena'. Sebutan 'brata' karena ia selama empat tahun melakukan laku 'tarak brata' dalam bungkus pelindung, sedangkan sebutan 'sena', karena ia ditolong oleh Gajah Sena. Sementara itu, atas perintah Sang Hyang Bathara Guru, Bathara Narada diminta memberikan 'kanugrahan' kepada Prabu Sempani, seorang raja dari Kerajaan Banakeling yang telah lama bertapa karena menginginkan keturunan. Bungkus pelindung tubuh Bima Sena diberikan kepadanya, dan diminta untuk direndam di dalam air. Bungkus pelindung tubuh bayi itu, lalu berubah menjadi seorang ksatria, yang kemudian diangkat menjadi puteranya. Pagelaran wayang kulit purwa yang penuh dengan wejangan dan pelajaran kehidupan ini, semoga bisa menjadi tuntunan kehidupan yang berharga bagi kita.