Перейти к содержимому

Homo Erectus Terakhir di Dunia Ternyata Ada di Jawa?

Penasarin

0:00 / 0:00

Homo Erectus Terakhir di Dunia Ternyata Ada di Jawa?

80 просмотров · 1 день назад
Penasarin
2,29 тыс. подписчиков
80 просмотров · 1 день назад
Bayangkan bangun pagi, membuka HP, pergi bekerja, dan merencanakan tahun depan seperti biasa. Tanpa sadar, kita menjalani hidup seolah Homo sapiens akan selalu menjadi tokoh utama di Bumi. Tapi sejarah manusia menyimpan perspektif yang agak mengganggu. Jauh sebelum kota, internet, atau pertanian ada, Homo erectus telah bertahan dalam rentang waktu yang luar biasa panjang. Dan ketika sejarah mereka akhirnya mendekati babak terakhirnya, salah satu populasi termuda yang diketahui ternyata ditemukan di Jawa. Di video ini kita mengikuti perjalanan dari Java Man di Trinil, fosil-fosil Ngandong di tepian Bengawan Solo, perdebatan tentang umur fosil, hingga penelitian yang menempatkan konteks Homo erectus Ngandong sekitar 117.000–108.000 tahun lalu. Kita juga akan melihat pertanyaan yang lebih sulit: Kenapa mereka bisa bertahan begitu lama di Jawa? Apa yang berubah pada lingkungan mereka? Apakah Homo sapiens benar-benar terlibat dalam hilangnya Homo erectus? Dan kalau Homo erectus mampu bertahan jauh lebih lama daripada seluruh keberadaan Homo sapiens sejauh ini... apakah spesies kita suatu hari mampu menyamai mereka? #HomoErectus #ManusiaPurba #SejarahIndonesia #EvolusiManusia #Penasarin SUMBER REFERENSI 1. Rizal, Y., Westaway, K. E., Zaim, Y., et al. — “Last appearance of Homo erectus at Ngandong, Java, 117,000–108,000 years ago.” Nature 577, 381–385 (2020). DOI: 10.1038/s41586-019-1863-2 2. Smithsonian Institution — Human Origins Program “Homo erectus” 3. Smithsonian Institution — Human Origins Program “Extinction of Homo erectus” 4. Smithsonian Institution — Human Origins Program “Trinil 2 (Java Man)” 5. UNESCO World Heritage Centre “Sangiran Early Man Site” CATATAN EDITORIAL Istilah “Homo erectus terakhir” dalam video merujuk pada populasi Homo erectus termuda yang diketahui dalam catatan fosil berdasarkan bukti yang tersedia saat ini, terutama kronologi Ngandong. Penyebab pasti hilangnya populasi terakhir Homo erectus masih belum dapat ditentukan secara sederhana. Beberapa bagian visual merupakan rekonstruksi edukatif berdasarkan konteks ilmiah dan bukan rekaman langsung kehidupan mereka. Penasarin — Karena Setiap Cerita Punya Sisi Lain.