Перейти к содержимому

SANG WALIYULLAH YANG BERGURU KEPADA ANJING | ABU YAZID AL BUSTHAMI

PENA PENCARI HIKMAH

0:00 / 0:00

SANG WALIYULLAH YANG BERGURU KEPADA ANJING | ABU YAZID AL BUSTHAMI

468 856 просмотров · 6 лет назад
PENA PENCARI HIKMAH
539 тыс. подписчиков
468 856 просмотров · 6 лет назад
"Bahkan Sang Mahaguru Belajar kepada Seekor Anjing........!" Pada suatu hari, Syeikh Abu Yazid al-Busthami sedang menyusuri sebuah jalan sendirian. Tak seorang murid pun diajaknya. Ia memang sedang menuruti kemauan langkah kakinya berpijak. Maka dengan santai ia berjalan di jalan yang lengang nan sepi. Tiba-tiba dari arah depan ada seekor anjing hitam berlari-lari. Syeikh Abu Yazid al-Busthami merasa tenang-tenang saja, tak terpikirkan bahwa anjing itu akan mendekatnya. Ternyata anjing itu sudah mendekat di sampingnya. Secara spontan Syeikh Abu Yazid al-Busthami pun segera mengangkat jubah kebesarannya. Tindakan tadi begitu cepatnya dan tidak jelas apakah karena merasa khawatir bersentuhan dengan anjing yang liurnya najis atau karena apa. Tapi, betapa kagetnya Syeikh Abu Yazid al-Busthami begitu ia mendengar anjing hitam yang di dekatnya tadi memprotes: “Tubuhku kering dan aku tidak melakukan kesalahan apa-apa!” Mendengar suara anjing hitam seperti itu, Syeikh Abu Yazid al-Busthami masih ragu: “Benarkah ia bicara padanya? Ataukah itu hanya perasaan dan ilusinya semata?”. Syeikh Abu Yazid al-Busthami masih terdiam dengan renungan-renungannya. Belum sempat bicara, anjing hitam itu meneruskan celotehnya: “Seandainya tubuhku basah, engkau cukup menyucinya dengan air yang bercampur tanah tujuh kali, maka selesailah persoalan di antara kita. Tetapi apabila engkau menyingsingkan jubah sebagai seorang Parsi (kesombonganmu), maka dirimu tidak akan menjadi bersih walau engkau membasuhnya dengan tujuh samudera sekalipun!” Setelah yakin bahwa suara tadi benar-benar suara anjing hitam yang ada di dekatnya itu, Syeikh Abu Yazid al-Busthami pun menyadari kekhilafannya. Secara spontan pula, ia bisa merasakan kekecewaan dan keluh kesah si anjing hitam yang merasa terhina. Ia juga menyadari bahwa telah melakukan kesalahan besar. Ia telah menghina sesama makhluk Tuhan tanpa alasan yang jelas. “Ya, engkau benar anjing hitam. Engkau memang kotor secara lahiriah, tetapi aku kotor secara batiniah. Karena itu, marilah kita berteman dan bersama-sama berusaha agar kita berdua menjadi bersih.” kata Syeikh Abu Yazid al-Busthami. Ungkapan Syeikh Abu Yazid al-Busthami tadi tentu saja merupakan ungkapan rayuan agar si anjing hitam itu mau memaafkan kesalahannya. Jikalau binatang tadi mau berteman dengannya, tentu dengan suka rela ia mau memaafkan kesalahannya itu. “Engkau tidak pantas untuk berjalan bersama-sama denganku dan menjadi sahabatku! Sebab, semua orang menolak kehadiranku dan menyambut kehadiranmu. Siapa pun yang bertemu denganku akan melempariku dengan batu. Tetapi siapa pun yang bertemu denganmu akan menyambutmu bagaikan raja. Aku tidak pernah menyimpan sepotong tulang pun, tetapi engkau memiliki sekarung gandum untuk makanan esok hari!” kata si anjing hitam. Syeikh Abu Yazid al-Busthami masih termenung dengan kesalahannya. Setelah dilihatnya, ternyata si anjing hitam telah meninggalkannya sendirian di jalanan yang sepi itu. Si anjing hitam telah pergi dengan bekas ucapannya yang menyayat hati Syeikh Abu Yazid al-Busthami. “Ya Allah, aku tidak pantas bersahabat dan berjalan bersama seekor anjing milikMu. Lantas, bagaimana aku dapat berjalan bersamaMu yang abadi dan kekal? Maha Suci Allah yang telah memberi pengajaran kepada yang termulia di antara makhlukMu yang terhina di antara semuanya.” seru Syeikh Abu Yazid al-Busthami. Kemudian, dengan langkah yang sempoyongan Syeikh Abu Yazid al-Busthami pun meneruskan perjalanannya. Ia melangkahkan kakinya menuju ke khaniqahnya dimana para murid yang telah menunggunya Keunikan Syeikh Abu Yazid al-Busthami memang sudah terlihat sejak dulu. Kepada para santrinya, beliau tidak selalu mengajarkan di khaniqahnya saja, tetapi juga diajak untuk membaca ayat-ayat alam yang tergelar di alam semesta ini. Suatu hari, Syeikh Abu Yazid al-Busthami sedang mengajak berjalan-jalan dengan beberapa orang muridnya. Jalan yang sedang mereka lalui sempit dan dari arah yang berlawanan datanglah seekor anjing. Setelah diamati secara seksama, ternyata ia bukanlah anjing hitam yang dulu pernah memprotesnya. Ia anjing coklat yang lebih jelek dari anjing hitam. Begitu melihat si anjing coklat tadi terlihat tergesa-gesa, maka Syeikh Abu Yazid al-Busthami segera saja memerintahkan kepada para muridnya agar memberi jalan kepada anjing tersebut. “Hai murid-muridku, semuanya minggirlah. Jangan ada yang mengganggu anjing yang mau lewat itu! Berilah dia jalan, karena sesungguhnya ia ada suatu keperluan yang penting hingga ia berlari dengan tergesa-gesa,” kata Syeikh Abu Yazid al-Busthami kepada para muridnya. #waliyullah #anjing #mahaguru