Keluar dari kabut asap
Sejahtera Girsang
0:00 / 0:00
Keluar dari kabut asap
7 просмотров · 1 дн. назад
Sejahtera Girsang
131 подписчик
7 просмотров · 1 дн. назад
Saat aku menunjuk asap yang merayap di sudut paviliun,
Kau bilang mataku tersesat dalam dongeng dan mantra dukun.
Kau bentangkan kain penutup di atas nyala yang membesar,
Lalu menuduh firasatku racun yang bikin pikiran gusar.
Kau tertawa di atas retakan pondasi yang mulai bergoyang,
Seolah tangisan cemas ini cuma burung kelaparan siang.
Kau matikan lentera, lalu bilang gelap ini ciptaan benakku,
Membuatku memeriksa nadi, membuang sisa waktuku.
Di balik jubahmu yang megah dan terlipat rapi,
Jemarimu bergerak senyap, menyembunyikan sumbu dan korek api.
Kau paksa aku meraba dinding dalam buta yang kau sengaja,
Lalu menertawakan langkahku yang limbung, kehilangan meja.
(Chorus / Refrain)
Kau ubah takutku jadi terdakwa di ruang sidang yang fana!
Memutarbalikkan fakta seolah akulah pembawa bencana.
Tembok yang retak kau sebut lukisan abstrak yang tak perlu dicemaskan,
Membiarkan pondasi rapuh ini hancur tanpa sempat diselamatkan.
Bagaimana kupercayakan arah kompas pada tangan yang memutar mata angin?
Sementara apimu melenggang tanpa beban, membakar habis semua yang kuingin.
Setiap saksi bisu di sudut ruangan kau sebut bayang-bayang ilusi,
Mengisolasi nuraniku agar tunduk pada aturan yang kau sebut diskusi.
Kau rancang skenario indah di mana akulah pemeran yang hilang akal,
Agar tuntutan kebenaran dariku layu sebelum sempat jadi tebal.
Namun bau hangus dari balik tirai kamar takkan bisa kau sembunyikan lama,
Sebab kebenaran tahu cara mengeja kebohongan yang kau karma.
Waras ini bukan kertas yang bisa kau robek lalu tulis ulang,
Nadi yang kuperiksa masih berdenyut jujur, menolak takluk pada kepalsuan yang kau pajang.
Kau boleh sembunyikan sumbu dan padamkan minyak di dalam cawan,
Namun fajar tak pernah butuh izin penipu untuk mengusir mendung dan awan.
Kini paviliun ini biarlah runtuh bersama seluruh kebohongan yang kau pelihara,
Aku melangkah keluar dari kabut asap, meninggalkan panggung sandiwara.
Biarlah retakan tembok itu jadi saksi runtuhnya tirani yang kau bangun tinggi,
Sebab mataku kini terbuka lebar, menemukan lagi warasnya hati yang sunyi.
@MTV @KapanLagicomVideo @GlobalMusik_ID @AquariusMusikindo @liputan6_news @DTSMusikaStudio @INDmusikmix @NagaswaraOfficial @warnerindonesia @kompascom