Перейти к содержимому

Mbah Mandhur Temanggung

bolowali

0:00 / 0:00

Mbah Mandhur Temanggung

1 442 просмотра · 3 г. назад
bolowali
3,91 тыс. подписчиков
1 442 просмотра · 3 г. назад
Lahir KH. Mandhur lahir di Parakan, Temanggung, pada 1862 M. Ayah beliau, Joyo Jendul, merupakan salah seorang pengikut Pangeran Diponegoro. Membentuk Barisan Pemuda Bambu Runcing KH. Mandhur merupakan salah satu ulama yang hadir dalam musyawarah pembentukan Barisan Muslimin Temanggung atau Barisan Bambu Runcing. Rapat ini dihadiri para kiai sedaerah Temanggung pada 30 Oktober 1945. Dalam perkumpulan musyawarah tersebut, para alim ulama yang dituakan diminta untuk melakukan penyepuhan senjata para laskar. Harapannya, itu akan berdampak positif bagi perjuangan mereka dalam melawan penjajah NICA. Dengan adanya perkumpulan kiai tersebut, terbentuklah Barisan Bambu Runcing di Parakan. Dalam musyawarah ini, KH. Mandhur ditunjuk sebagai pemimpin. Namun, ia menyadari bahwa di dalam forum tersebut ada yang lebih sepuh darinya. Ia pun sempat merasa kurang berhak atas kepemimpinan tersebut. Karena itu, kepemimpinan atas Barisan Bambu Runcing disarankannya untuk KH. Subkhi. Pada waktu itu, umur dai kelahiran Parakan Kauman itu memang paling sepuh. Akhirnya disepakati, KH. Subkhi-lah yang memimpin Barisan Muslimin Temanggung. Walaupun secara tertulis tidak mendapatkan tugas dalam penyepuhan bambu runcing, KH. Mandhur tetap berperan dalam menyumbangkan doa-doa kepada para laskar. Bacaan munajat itu digunakan untuk menyepuh senjata bambu runcing. Sang kiai bahkan termasuk yang paling banyak dalam memberikan doa-doa untuk keperluan itu. Pengaruh doa dari para kiai Bambu Runcing menjadi daya tarik tersendiri bagi para pemuda untuk datang ke Parakan. Kereta api luar biasa (KLB) jurusan Parakan bahkan penuh sesak oleh para laskar. Mereka ingin meminta doa dan wejangan dari para kiai setempat. Dengan begitu, KH. Mandhur bersama para kiai lainnya menjadi sibuk. Pada saat itu, pemberian doa dan wejangan dibagi beberapa tempat yang mana masing-masing dipimpin oleh KH. Mandhur, KH. Ali, KH. Nawawi dan pemimpin Barisan Bambu Runcing yaitu KH. Subkhi. Salah seorang peserta yang datang ke Parakan ialah Sudirman. Pria ini di kemudian hari menjadi jenderal besar TNI. Kemudian KH. Mandhur yang melihat hal itu menyuruh KH. Saifuddin Zuhri untuk melihat dari dekat kegiatan gemblengan yang dilakukan Barisan Bambu Runcing. Karena, KH. Mandhur merasa khawatir akan adanya fitnah oleh orang-orang yang tidak menyukai dan tidak mendukungnya. Di waktu lain, Kota Parakan juga pernah kedatangan tiga tokoh yang sangat berpengaruh terhadap kemerdekaan Indonesia yaitu KH. A Wahid Hasyim, KH. Masykur, dan KH. Zaenul Arifin. Para tokoh tersebut didampingi oleh KH. Saifuddin Zuhri untuk bertemu dengan KH. Subkhi. Pengaruh doa dari para kiai Bambu Runcing menjadi daya tarik tersendiri bagi para pemuda untuk datang ke Parakan. Kereta api luar biasa (KLB) jurusan Parakan bahkan penuh sesak oleh para laskar. Mereka ingin meminta doa dan wejangan dari para kiai setempat. Dengan begitu, KH. Mandhur bersama para kiai lainnya menjadi sibuk. Pada saat itu, pemberian doa dan wejangan dibagi beberapa tempat yang mana masing-masing dipimpin oleh KH. Mandhur, KH Ali, KH. Nawawi dan pemimpin Barisan Bambu Runcing yaitu KH. Subkhi. Salah seorang peserta yang datang ke Parakan ialah Sudirman. Pria ini di kemudian hari menjadi jenderal besar TNI. Kemudian KH. Mandhur yang melihat hal itu menyuruhKH. Saifuddin Zuhri untuk melihat dari dekat kegiatan gemblengan yang dilakukan Barisan Bambu Runcing. Karena, KH. Mandhur merasa khawatir akan adanya fitnah oleh orang-orang yang tidak menyukai dan tidak mendukungnya. Di waktu lain, Kota Parakan juga pernah kedatangan tiga tokoh yang sangat berpengaruh terhadap kemerdekaan Indonesia yaitu KH. A Wahid Hasyim, KH. Masykur, dan KH. Zaenul Arifin. Para tokoh tersebut didampingi oleh KH. Saifuddin Zuhri untuk bertemu dengan KH. Subkhi. Salah seorang peserta yang datang ke Parakan ialah Sudirman. Pria ini di kemudian hari menjadi jenderal besar TNI. Setelah KH. Wahid Hasyim meninggalkan Kota Parakan, KH. Mandhur yang waktu itu menjadi pemimpin Sabilillah tetap berada di Parakan untuk memusyawarahkan tentang hari-hari mendatang bagi Parakan. KH. Saifuddin Zuhri kemudian mengusulkan bahwa penyepuhan tidak harus dilakukan oleh KH. Subkhi dikarenakan umurnya yang sudah 90 tahun lebih. Hal itu juga dapat menganggu kesehatan KH Subkhi kalau setiap hari harus menemui ribuan tamu yang datang. Dengan begitu diusulkan agar KH. Mandhur dan KH. Nawawi yang melakukan penyepuhan. Menurut buku yang ditulis oleh KH. Istachori Syam’ani, KH. Mandhur dulu menjabat sebagai pemimpin BMT Daerah Temanggung, yang mana pada waktu itu dibentuk perwakilan-perwakilan BMT disetiap daerah untuk memudahkan para pejuang. Wafat Beliau wafat pada 4 Rabiul Awal atau bertepatan pada 18 Februari 1980, jenazah beliau dimakamkan di Desa Kedungumpul, Kandangan, Temanggung.