Перейти к содержимому

Mentan Amran Bongkar Dugaan Mafia Pangan Didepan Mantan Kapolri

VIVA.CO.ID

0:00 / 0:00

Mentan Amran Bongkar Dugaan Mafia Pangan Didepan Mantan Kapolri

30 594 просмотра · 7 часов назад
VIVA.CO.ID
3,78 млн подписчиков
30 594 просмотра · 7 часов назад
VIVA - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman meluapkan kekesalannya terhadap praktik mafia pangan yang dinilai masih terus terjadi. Ia mengkritik penegakan hukum yang dianggap belum menyentuh seluruh pihak yang bertanggung jawab, lantaran penindakan selama ini disebut hanya menyasar jajaran direksi perusahaan, sementara pemilik atau owner perusahaan belum ikut terseret. Pernyataan tersebut disampaikan Amran dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat, hari Senin 12 Oktober 2026. Ia menilai, praktik manipulasi harga pangan akan sulit diberantas jika penindakan hukum tidak menjangkau pihak-pihak yang diduga menjadi aktor utama di balik perusahaan. Amran mengaku frustrasi karena persoalan serupa terus berulang meski upaya penindakan telah dilakukan. Menurutnya, penangkapan terhadap jajaran direksi saja tidak cukup untuk memutus mata rantai praktik mafia pangan apabila pemilik perusahaan tidak turut dimintai pertanggungjawaban. Ia juga menyoroti dampak permainan harga pangan terhadap peternak ayam dan telur. Kondisi tersebut dinilai turut menekan para produsen, terutama ketika harga jual di tingkat peternak mengalami penurunan. Amran menegaskan perlunya langkah hukum yang lebih tegas agar praktik yang merugikan masyarakat tidak terus berlanjut. Untuk menggambarkan pentingnya ketegasan aparat, ia bahkan menyinggung keberhasilan penangkapan teroris Noordin M. Top sebagai pembanding. Menurut Amran, persoalan mafia pangan seharusnya dapat dituntaskan dalam waktu relatif singkat apabila penanganannya dilakukan secara serius dan menyasar pihak yang tepat. Selain itu, Amran mengungkapkan dugaan praktik permainan harga pada komoditas pangan, khususnya beras fortifikasi, yang disebut telah merugikan konsumen hingga Rp89 triliun. Ia menilai persoalan ini bukan hanya berkaitan dengan mahalnya harga jual, tetapi juga dugaan penyelewengan yang membuat masyarakat membayar jauh lebih tinggi dari harga semestinya. Amran menjelaskan, beras fortifikasi ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi kelompok rentan, termasuk masyarakat berpenghasilan rendah, ibu hamil, dan balita. Program tersebut juga berkaitan dengan upaya pemerintah menekan angka stunting. #vivanewsdaily #amransulaiman #titokarnavian #mafia [K] {NAT} Reporter : - Kontributor : - If you are interested for any collaboration/sponsorship, please contact or portal@viva.co.id or sales@viva.co.id Baca berita terbaru, terkini dan terpopuler disini https://www.viva.co.id/