Перейти к содержимому

Mendidik Anak Bergantung Hanya Kepada Allah - Ustadz Dr. Abdullah Zaen, Lc., M.A.

Ustadz Abdullah Zaen

0:00 / 0:00

Mendidik Anak Bergantung Hanya Kepada Allah - Ustadz Dr. Abdullah Zaen, Lc., M.A.

2 969 просмотров · Трансляция закончилась 12 ч назад
Ustadz Abdullah Zaen
63,2 тыс. подписчиков
2 969 просмотров · Трансляция закончилась 12 ч назад
Serial Fiqih Pendidikan Anak - No: 236 MENDIDIK ANAK BERGANTUNG HANYA KEPADA ALLAH Oleh: Dr. Abdullah Zaen, Lc., MA Tidak mungkin orang tua selalu mendampingi anak sepanjang hayatnya. Cepat atau lambat, mereka pasti akan berpisah. Bisa untuk sementara waktu, misalnya ketika anak merantau, atau untuk selamanya, ketika salah satu dari mereka wafat. Jika anak tidak dibiasakan bergantung kepada Allah, ia bisa kebingungan ketika tidak lagi dapat mengandalkan kehadiran orang tuanya. Oleh karena itu, mendidik anak agar terbiasa menggantungkan segala urusannya kepada Allah merupakan kewajiban yang perlu ditunaikan oleh setiap orang tua. Berikut beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan. Langkah Pertama: Menjelaskan Kesempurnaan Allah Orang tua perlu mengenalkan kesempurnaan Allah kepada anak agar tumbuh ketergantungan hati kepada-Nya. Jelaskan bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kasih sayang-Nya jauh melampaui kasih sayang orang tua kepada anaknya. Allah juga Maha Kuat dan Maha Kuasa. Apa pun yang kita inginkan, Allah Mahakuasa untuk mewujudkannya. Allah pun Maha Kaya. Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini adalah milik-Nya. Karena itu, Allah Mahakuasa untuk memenuhi segala kebutuhan kita. Ketika anak memahami kesempurnaan sifat-sifat Allah tersebut, diharapkan tumbuh kesadaran dalam dirinya untuk senantiasa menyandarkan hati kepada Allah dan memohon pertolongan hanya kepada-Nya. Langkah Kedua: Menceritakan Kisah Datangnya Pertolongan Allah Salah satu cara menumbuhkan ketergantungan hati kepada Allah adalah dengan menceritakan kisah-kisah nyata tentang pertolongan-Nya kepada para hamba. Terutama ketika mereka menghadapi keadaan yang, menurut perhitungan manusia, seolah-olah tidak lagi memiliki jalan keluar. Orang tua bisa menceritakan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika dibakar oleh kaumnya, tetapi Allah menyelamatkan beliau. Bisa pula kisah Nabi Musa ‘alaihissalam ketika dikejar Fir’aun dan bala tentaranya hingga terdesak di hadapan lautan. Secara kasatmata, tidak ada jalan untuk meloloskan diri. Namun, Allah membelah lautan sehingga Nabi Musa dan kaumnya selamat, sedangkan Fir’aun beserta bala tentaranya tenggelam. Demikian pula kisah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika kaum musyrikin mengepung rumah beliau untuk membunuhnya. Dengan pertolongan Allah, beliau berhasil keluar dari kepungan tersebut dan berhijrah dari Mekah menuju Madinah. Kisah-kisah semacam ini mengajarkan kepada anak bahwa tidak ada sesuatu pun yang sulit bagi Allah. Jika Allah mampu menolong hamba-Nya dalam keadaan yang tampaknya mustahil diatasi, tentu Dia juga Mahakuasa untuk memberikan pertolongan dalam berbagai persoalan sehari-hari yang kita hadapi. Langkah Ketiga: Membiasakan Anak Memohon kepada Allah Ketergantungan hati kepada Allah perlu ditanamkan melalui latihan dan pembiasaan. Karena itu, orang tua hendaknya membiasakan anak berdoa setiap kali memiliki keinginan atau menghadapi persoalan. Saat sakit, memohon kesembuhan; ketika bercita-cita, memohon kemudahan; saat akan ujian, memohon kelancaran; dan ketika berangkat sekolah, memohon ilmu yang bermanfaat. Intinya, biasakan anak memohon pertolongan Allah dalam segala keadaan, baik saat menghadapi kesulitan maupun mengharapkan kebaikan. Tentu saja, doa harus disertai ikhtiar. Anak perlu memahami bahwa bergantung kepada Allah bukan berarti berpangku tangan, melainkan berdoa, berusaha, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Senin, 8 Jumadal Ula 1448 / 19 Oktober 2026 #pendidikananak #keluargaislami #ustadzabdullahzaen