Перейти к содержимому

Misalkan Kita di Sarajevo karya Goenawan Mohamad | Mohamad Fajar Ramadan

Komunitas CCL Bandung

0:00 / 0:00

Misalkan Kita di Sarajevo karya Goenawan Mohamad | Mohamad Fajar Ramadan

2 277 просмотров · 5 лет назад
Komunitas CCL Bandung
3,51 тыс. подписчиков
2 277 просмотров · 5 лет назад
Pembaca Puisi : Mohamad Fajar Pembimbing : IS Penata Musik : Mahesa Elgasani, Caesario Mahesa Dokumentasi : Fahad Alfaj Puisi yang saya tampilkan merupakan respon terhadap peristiwa-peristiwa genting semacam pandemi Covid. Puisi Misalkan Kita di Sarajevo karya Goenawan Mohamad menjadi selaras dengan keadaan pandemi sekarang, karena mengirim siapa pun pembaca atau penonton dalam video ini pada keadaan sublim saat menghadapi keadaan Sarajevo di masa perang saudara. Puisi ini pun selaras ditengah gonjang-ganjing permasalahan yang terjadi di Indonesia. Antara ketakutan akan pandemi serta ketakutan akan pecahnya negeri ini. Dengan konteks demikian, tayangan video pembacaan puisi ini hadir untuk menanggapi segala permasalahan yang hadir. Misalkan Kita di Sarajevo Buat B.B dan kawan-kawan Misalkan kita di Sarajevo; mereka akan mengetuk dengan kanon sepucuk dan bertanya benarkah ke Sarajevo ada secelah pintu masuk. Misalkan kita di Sarajevo: tembok itu, dengan luka-luka peluru, akan bilang “tidak”, selepas galau. Tapi kau tahu musim, di Sarajevo akan mematahkan engsel, dingin akan menciutkan tangan, dan listrik lindap. Orang-orang akan kembali dari kedai minum, dan memandangi hangus di loteng-loteng. Apakah yang mereka saksikan sebenarnya di Sarajevo: sebentang samun, tanah yang redam? Apakah yang mereka saksikan sebenarnya? Keyakinan dipasak di atas mihrab dan lumbung gandung dan tak ada lagi orang membaca. Hanya mungkin pada kita masih ada seutas tilas, yang tak terseka. Atau barangkali sebentuk asli katahati? Misalkan, misalkan, di Sarajevo: bulan tak meninggalkan replika, di dekat menara, tinggal warna putih yang hilang dari azan Misalkan angin juga kehilangan perangai di pucuk-pucuk poplar kuning dan taman yang tak bergerak. Pasti nenek peri, dengan suara kanker di perut, akan berkata, “Tinggal cobaan dalam puasa di padang gurun, di mana kau tak bisa.” Mengapa kita di Sarajevo? Mengapa gerangan kita pertahankan kota ini? Seperti dalam sebuah kisah film, Sarajevo tak bisa takluk. Kita tak bisa takluk Tapi keluar dari gedung rapat umum, orang-orang sipil akan mengenakan baju mereka yang terbaik, mencium pipi para isteri, ramah tapi gugup, meskipun mereka, di dalam saku, menyembunyikan teks yang gaib itu: “Bukan roti, melainkan firman.” Batu-batu di trotoar ini memang tak akan bisa jadi roti cahaya salju di kejauhan itu juga tak akan jadi firman Tapi misalkan kita di Sarajevo Di dekat museum itu kita juga akan takzim membersihkan diri: Biarkan aku mati dalam warna kirmizi.” Lalu aku pergi kau pergi, berangkat, tak memucat seperti awal pagi di warna kirmizi 1994 #fbsuny #universitasnegeriyogyakarta #kreatifhadapipandemi