Di Tengah Perebutan Takhta, PB XIV Hangabehi Ikrarkan Diri Sebagai Penguasa Keraton Solo
Tribun Solo Official
0:00 / 0:00
Di Tengah Perebutan Takhta, PB XIV Hangabehi Ikrarkan Diri Sebagai Penguasa Keraton Solo
25 943 просмотра · 5 дней назад
Tribun Solo Official
400 тыс. подписчиков
25 943 просмотра · 5 дней назад
TRIBUNSOLO.COM - Suasana Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Jawa Tengah, Sabtu (5/9/2026), terasa berbeda.
Di balik tembok keraton yang menyimpan perjalanan panjang Mataram, sebuah prosesi adat digelar. Langkah kaki para abdi dalem, kerabat, perangkat upacara, hingga pembawa pusaka perlahan mengiringi perjalanan menuju Sitihinggil dan Pagelaran.
Di tengah rangkaian itu, sosok Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Pakubuwono XIV Hangabehi menjalani prosesi Jumenengan.
Bagi Keraton Solo, Jumenengan bukan sekadar seremoni.
Prosesi ini menjadi bagian penting dalam pengukuhan seorang raja. Sebuah momentum ketika seseorang yang telah naik takhta menyatakan kesanggupannya untuk menjalankan amanah sebagai pemimpin keraton.
PB XIV Hangabehi keluar dari kawasan utama keraton menuju Sitihinggil. Langkahnya diikuti para abdi dalem dan kerabat keraton.
Ampilan dalem, pusaka, serta perangkat kesenian turut dibawa dalam prosesi tersebut.
Semua bergerak dalam tata cara yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Setibanya di rangkaian prosesi adat, PB XIV Hangabehi menyampaikan ikrar.
Di hadapan tradisi dan simbol-simbol leluhur itu, ia menyatakan kesanggupannya untuk meneruskan amanah para pendahulu serta menjalankan hukum dan tata adat yang berlaku di Keraton Surakarta.
"Insun ngundangake ana sanduwure Sela Tri Denta, yen ingsun wis kajumbunngake ing ari tumpak kasih 22 mulud 1960 kanthi jejuluk Kanjeng Dalem ingkang sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono Senopati ing Ngalogo Abdurrahman Sayidin Panatagama kaping 14..."
Ikrar itu kemudian ditutup dengan ungkapan:
"Rahayu, rahayu, rahayu."
Kalimat-kalimat tersebut bukan hanya bagian dari ucapan upacara.
Di dalamnya terdapat pesan tentang tanggung jawab seorang raja. Bahwa takhta bukan semata-mata soal kedudukan, melainkan juga tentang amanah yang harus dipikul.
PB XIV Hangabehi kembali menyampaikan sumpahnya dengan menyebut nama Gusti Allah SWT serta leluhur yang secara turun-temurun merawat Mataram Islam.
Sebuah ikrar yang menempatkan perjalanan seorang raja dalam mata rantai sejarah yang jauh lebih panjang daripada dirinya sendiri.
Usai prosesi, Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta Hadiningrat, GRAy Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng, menjelaskan makna rangkaian tersebut.
Menurutnya, Jumenengan menjadi bagian untuk melengkapi bertakhtanya PB XIV Hangabehi sebagai Sinuwun Keraton Solo.
"Rangkaian acara dalam rangka melengkapi bertakhtanya Sinuwun Pakubuwono XIV akan dimulai sejak sore hari," ujar Gusti Moeng.
Ia menjelaskan, dalam prosesi di Mangguntur Tangkil, Sinuwun menyampaikan kesanggupannya untuk menjalankan amanah dan perintah para leluhur melalui tata upacara adat yang telah diwariskan.
"Di Mangguntur Tangkil, Sinuwun akan menyampaikan kesanggupannya untuk menjalankan apa yang menjadi amanah dan perintah para leluhur melalui pagelaran atau prosesi adat yang telah diwariskan," ungkapnya.
Jumenengan akhirnya bukan hanya tentang seorang raja yang duduk di singgasana.
Ia adalah tentang bagaimana sebuah takhta memperoleh maknanya melalui amanah.
Tentang seorang penerus yang berdiri di antara masa lalu dan masa depan.
Dan tentang sebuah tradisi yang terus berusaha menjaga jejak leluhur, di tengah zaman yang terus berubah.
Pada Sabtu itu, di dalam tembok Keraton Solo, PB XIV Hangabehi menjalani satu lagi tahapan penting dalam perjalanan takhtanya.
Sebuah prosesi yang mengingatkan bahwa dalam tradisi keraton, menjadi raja bukan hanya perkara siapa yang berada di atas takhta.
Tetapi juga tentang siapa yang sanggup memikul amanah di baliknya.