Перейти к содержимому

Nyanyian Jiwa Di Atas Munajad

MUSIC VIRTUAL TRAVELER

0:00 / 0:00

Nyanyian Jiwa Di Atas Munajad

115 просмотров · 13 дней назад
MUSIC VIRTUAL TRAVELER
21 подписчик
115 просмотров · 13 дней назад
NYANYIAN JIWA DI ATAS MUNAJAD Ketika malam meraba luka-luka yang tak berdarah, Dan dunia yang fana merantai sayap-sayap jiwaku, Aku bersimpuh di kaki keheningan-Mu yang agung. Air mataku adalah tinta yang menuliskan penyesalan, Menyapu debu-debu hitam dari dinding nurani yang retak. Wahai Pencipta yang memeluk malam, bisikku dalam sujud yang panjang, Kucuci pakaian jiwaku yang koyak oleh khilaf, Agar layak ia berdiri di hadapan kemegahan cinta-Mu. Matahari jiwaku meraba-raba mencari fajar yang hilang, Dan badai datang bagai gelombang laut yang tak bertepi. Namun aku tidak mengutuk kegelapan, Aku melipat jemariku, membawa sekeranjang harapan dan permohonan. Di atas permadani ini, aku meletakkan seluruh mimpi yang patah, Meminta jemari takdir-Mu merajut kembali benang yang kusut. Sebab aku tahu, ketukan pintu-Mu tak pernah dijawab sunyi, Dan setiap keluhku adalah lagu hati yang membimbingku ke singgahsana-Mu. Saat bumi tertidur lelap dalam selimut kabut, Dan ribuan suara manusia tenggelam dalam mimpi, Jiwaku terbangun, melompati batas sunyi yang dingin. Aku berdiri di sepertiga malam, saat jarak antara aku dan langit memendek. Dalam munajadku yang syahdu, aku menumpahkan cawan kesedihanku. Rintangan yang menggunung tak lagi terasa angkuh, Sebab di hadapan kebesaran-Mu, segalanya hanyalah sebutir pasir. Bulan menjadi saksi, dan angin malam membawa bisikan doa: “Tuhan, dekap hatiku yang lelah, redakan badai sebelum fajar menyapa.” Ketika sang surya bangkit dengan jubah emasnya, Dan kehidupan kembali bernyanyi dalam kesibukan bumi, Aku kembali bermunajad di bawah naungan cahaya pagi Mu. Kidmatku ini adalah jabat tangan antara jiwaku dan berkah-Mu yang luas. Aku memohon Cahaya-Mu menyapu sisa-sisa air mata semalam, Bukan sekadar cepat sirnanya badai ini, Tetapi agar aku mampu melihat hikmah di balik setiap duri kehidupan. Menggantinya dengan ketabahan seorang musafir yang rindu pulang. Kini badai di luar sana mungkin belum sepenuhnya mereda, Namun di dalam dadaku, samudera telah menjadi tenang. Sebab insan yang didera seribu masalah ini, Telah menyerahkan segalanya kepada Sang Penggenggam Jiwa. Dalam munajadku aku memohon Aku tidak lagi berlari dari masalah Aku telah berlari menuju-Mu. By : susiloandri2005 Jika kalian mau menanyakan tentang lagu ini bisa hubungi di susiloandri2005@gmail.com Kalau kalian suka sama video ini, jangan lupa klik like, subscribe, dan tulis komentar di bawah ya! Dukungan kalian bikin kami makin semangat buat terus upgrade konten di channel ini. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih. Terima kasih banyak