Перейти к содержимому

Korban Sebut KM Virgo Sempat Miring 90 Derajat: Kalau Terlambat Bergerak, Kita Terjebak di Kapal

Tribunnews

0:00 / 0:00

Korban Sebut KM Virgo Sempat Miring 90 Derajat: Kalau Terlambat Bergerak, Kita Terjebak di Kapal

6 677 просмотров · 13 часов назад
Tribunnews
15,6 млн подписчиков
6 677 просмотров · 13 часов назад
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru TRIBUN-VIDEO.COM - Peristiwa mencekam dialami para penumpang KM Virgo Transport 8 rute Surabaya-Banjarmasin yang tenggelam di perairan Laut Jawa pada Minggu (13/9/2026). Salah satu penumpang yang berhasil selamat adalah Ahmad Murdillah, dokter spesialis radiologi RSUD Datu Sanggul Rantau, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Murdillah membagikan kisah perjuangan menyelamatkan diri ketika kapal yang ditumpanginya tiba-tiba miring hingga mencapai sekitar 90 derajat sebelum akhirnya tenggelam di tengah kondisi laut yang dipenuhi ombak tinggi. Sebelum kejadian, kondisi cuaca di laut disebut sudah cukup buruk dengan ketinggian ombak mencapai sekitar 2,5 hingga 3 meter. Padahal, Murdillah mengaku cukup sering bepergian menggunakan kapal laut, terutama untuk touring sepeda motor. Namun, dalam perjalanan tersebut ia justru mengalami mabuk laut yang cukup parah. "Malam itu saya mabuk berat sekali. Bukan hanya mabuk, mencret juga. Dari mulai habis Isya itu memang ombak kapal kami itu. Kami salat itu tidak bisa berdiri, saya salat berpegangan," ujar Murdillah, dikutip dari program Saksi Kata yang tayang di YouTube Banjarmasin Post News Video pada 19 September 2026. Karena terus merasa mual dan muntah setiap kali masuk ke kamar penumpang, Murdillah kemudian memilih berdiam di sofa yang berada di dekat toilet dan mushola kapal. Tanpa disadari, tempat tersebut justru menjadi salah satu faktor yang membantunya bertahan ketika situasi kapal berubah menjadi darurat. Sekitar tengah malam, kepanikan mulai terjadi ketika seorang penumpang berlari dari arah kantin sambil meneriakkan peringatan bahwa kapal mulai miring. "Sekitaran jam 12 malam itulah ada satu orang bapak-bapak berdiri dari arah kantin, kemudian dia berteriak 'kapal miring!'. Meskipun tidak terlalu miring awal mulanya, saya ikuti beliau lari ke kanan dan berpegangan dengan pagar kapal," tegas Murdillah. Menurut Murdillah, para penumpang hanya memiliki waktu sekitar 15 menit untuk merespons dan mencari posisi yang lebih aman sebelum kemiringan kapal menjadi semakin ekstrem. "Kejadiannya ini terlalu cepat, kalau saya menghitung itu response time atau waktu kita untuk mencapai pagar tempat tertinggi dari kapal itu cuma 15 menit. Kalau 15 menit kita terlambat bergerak, berarti kita terjebak di kapal," tuturnya. Kapal kemudian terus miring hingga mencapai sekitar 90 derajat. Murdillah mengaku tidak sempat kembali ke kamar untuk mengambil jaket pelampung. Ia memilih bertahan dengan berpegangan pada pagar dan memanjat sisi luar kapal untuk menghindari air yang mulai mengepung. "Saya sempat berpikir mau ngambil jaket pelampung ke kamar, tapi kalau saya turun, apa saya bisa naik lagi ke sisi kanan kapal? Kayaknya enggak bisa. Akhirnya saya tetap bertahan di pagar kapal. Saya tidak punya jaket pelampung, jadi saya tidak berani terjun ke air karena ombak sekitar 2,5 sampai 3 meter," jelasnya. Di tengah situasi yang semakin genting, Murdillah mengaku tidak mendengar sirine peringatan darurat maupun instruksi evakuasi dari Anak Buah Kapal (ABK). "Jujur saya tidak mendengar ada sirine atau tanda-tanda darurat. Pengakuan dari beberapa kawan yang satu sekoci juga tidak mendengar aba-aba tanda darurat," tambahnya. Setelah bertahan sekitar 30 menit di atas lambung kapal yang sudah dalam posisi miring, perahu karet atau sekoci penolong kemudian mengembang di permukaan laut. Dalam proses penyelamatan tersebut, Murdillah sempat mengalami benturan hingga mengalami luka pada bagian wajah. "Pas jatuh itu muka saya terbentur-bentur, ada patah di tulang hidung setelah di-CT scan. Tapi kata dokter bedah tidak perlu operasi," ungkapnya. Di tengah kepungan ombak dan kepanikan penumpang lainnya, Murdillah mengaku hanya bisa menyerahkan keselamatan dirinya kepada Tuhan Yang Maha Esa sembari terus berdoa. "Detik-detik kejadian itu saya merasakan maut itu di depan mata. Tapi semua ini qadar dan qadarnya Allah. Artinya kematian tidak bisa dimajukan dan tidak bisa dimundurkan. Kalau memang ajal belum sampai, Allah atur ada saja jalan yang mungkin terasa tidak mungkin," tuturnya. Ia juga mengaku terus berzikir dan membaca doa Nabi Yunus ketika berada dalam situasi tersebut. "Saya cuma zikir Ya Hayyu Ya Qayyum sambil baca doa Nabi Yunus: La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minaz zalimin. Teriak juga tidak ada yang dengar karena gemuruh ombak," pungkasnya. Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Kesaksian Dramatis Dokter Selamat dari KM Virgo Transport 8: Kapal Miring 90 Derajat, https://www.tribunnews.com/regional/7.... Penulis: Falza Fuadina Editor: Facundo Chrysnha Pradipha Program: Tribunnews Update Editor Video: Anggraini Puspasari #KMVirgoTransport8 #KMVirgo #KapalTenggelam #LautJawa #KapalSurabayaBanjarmasin #KorbanSelamat #AhmadMurdillah #KecelakaanKapal