MAHASISWA KRITIK ROCKY GERUNG: “ROCKY YANG DULU SAYA HORMATI!” Begini Jawabannya
Jejak Profesor
0:00 / 0:00
MAHASISWA KRITIK ROCKY GERUNG: “ROCKY YANG DULU SAYA HORMATI!” Begini Jawabannya
763 просмотра · 1 день назад
Jejak Profesor
2,73 тыс. подписчиков
763 просмотра · 1 день назад
*“Bang Rocky Gerung, khususnya orang yang dulu sempat saya hormati...”*
Sesi tanya jawab Seminar Nasional “Algoritma Berbangsa” di Universitas Negeri Medan (UNIMED) berlangsung panas dan sangat menarik.
Setelah Rocky Gerung menyampaikan gagasannya tentang **critical reasoning, algoritma berbangsa, algoritma buzzer, etikabilitas, intelektualitas, dan elektabilitas**, kini giliran mahasiswa menguji langsung gagasan tersebut.
Dan mahasiswa tidak memberikan pertanyaan ringan.
🔥 *“ROCKY GERUNG YANG DULU SAYA HORMATI...”*
Presiden Mahasiswa Universitas Negeri Medan membuka pertanyaannya dengan kritik langsung kepada Rocky Gerung.
Ia mempertanyakan posisi Rocky hari ini dan menilai paparan mengenai sejumlah kebijakan pemerintah seperti MBG dan Kopdes terkesan menjadi pembelaan terhadap kebijakan.
Mahasiswa tersebut juga menyampaikan pengalaman pribadinya terkait aksi mahasiswa dan dugaan upaya “pengondisian” yang menurut pengakuannya pernah ia alami.
Ketika ia beberapa kali mengatakan “izin” sebelum bertanya, Rocky justru menghentikannya.
Mengapa?
Menurut Rocky:
*Dalam demokrasi, berbicara adalah HAK.*
Karena itu mahasiswa tidak perlu meminta izin untuk berpikir dan berbicara di mimbar akademik.
Rocky menegaskan:
*“Berpikir tidak memerlukan izin.”*
Menurutnya, kampus adalah ruang kebebasan akademik. Mahasiswa harus berani menggunakan hak berpikirnya, bukan membangun mentalitas yang selalu menunggu izin dari otoritas.
🔥 *MAHASISWA: KAMI KRITIK, MALAH DISEBUT BUZZER!*
Mahasiswa berikutnya menguji gagasan Rocky mengenai “algoritma buzzer”.
Menurut mahasiswa tersebut, persoalannya justru menjadi paradoks:
Bagaimana mahasiswa bisa melawan algoritma buzzer jika ketika menyampaikan kritik atau pendapat mereka sendiri kemudian dituduh sebagai buzzer?
Ketika membela negara dituduh dibayar pemerintah.
Ketika mengkritik pemerintah dituduh dibayar pihak oposisi.
Bagaimana ruang kritik dapat tumbuh jika seseorang sudah diberi label bahkan sebelum substansi argumentasinya didengar?
Rocky menjawab bahwa serangan seperti itulah salah satu cara algoritma kebencian bekerja di media sosial.
Pesannya kepada mahasiswa tegas:
*Jangan takut mengajukan kritik, tetapi dalil dan argumentasinya harus jelas.*
🔥 *“APA PEMERINTAH TAKUT RAKYATNYA MAKIN PINTAR?”*
Pertanyaan kritis lainnya diarahkan kepada perwakilan pemerintah.
Seorang mahasiswa mempertanyakan prioritas MBG dan Kopdes dibandingkan kesehatan dan pendidikan.
Ia kemudian melontarkan pertanyaan:
*“Apa pemerintah takut rakyatnya makin pintar?”*
Pertanyaan tersebut langsung disambut reaksi peserta seminar.
🔥 *“APAKAH PEMERINTAHAN SEKARANG CERDAS DAN WARAS?”*
Mahasiswi lainnya kemudian menguji langsung gagasan Rocky mengenai pemerintahan yang harus mempunyai intelektualitas dan moralitas.
Ia bertanya:
*Apakah menurut Rocky Gerung pemerintahan sekarang termasuk pemerintahan yang cerdas dan waras?*
Rocky tidak sekadar memberikan jawaban “ya” atau “tidak”.
Ia justru mengembalikan tantangan tersebut kepada mahasiswa:
*Buktikan!*
Menurut Rocky, mahasiswa tidak cukup hanya mencurigai.
Jika menilai seorang pejabat tidak kompeten, mahasiswa harus mampu menunjukkan data, fakta, rekam jejak, hubungan politik, kebijakan, dan argumentasinya.
📌 *KRITIK TIDAK BOLEH BERHENTI PADA KECURIGAAN*
Inilah salah satu pesan penting dari sesi ini.
Mahasiswa memang harus kritis.
Tetapi KRITIS berbeda dengan sekadar CURIGA.
Kritik akademik membutuhkan:
🔹 data;
🔹 fakta;
🔹 argumentasi;
🔹 kemampuan melakukan verifikasi; dan
🔹 keberanian menguji kesimpulan sendiri.
Rocky bahkan mengingatkan bahaya ketika informasi yang sangat terbatas di media sosial membentuk persepsi dan kebencian terhadap sesuatu sebelum fakta diperiksa secara utuh.
Menurutnya:
*“Kecurigaan mendahului kecerdasan” justru merupakan masalah dalam cara berpikir.*
📌 *APAKAH ROCKY GERUNG SUDAH BERUBAH?*
Pertanyaan ini menggantung sepanjang sesi.
Dulu Rocky dikenal sebagai salah satu pengkritik keras kekuasaan.
Kini, setelah berada di lingkungan Wantimpres, mahasiswa secara terbuka menguji:
Apakah kritiknya masih sama?
Apakah kedekatan dengan kekuasaan mengubah cara pandangnya?
Ataukah justru posisinya sekarang memungkinkan kritik disampaikan dari dalam?
Yang menarik, Rocky merespons dengan menantang mahasiswa untuk tetap mengkritik dirinya maupun pemerintah.
Bahkan ketika mahasiswa menilai pemerintah tidak cerdas, tidak waras, atau kebijakannya keliru, Rocky meminta satu hal:
*Jangan berhenti pada tuduhan. Buktikan dengan argumentasi.*
*Terus Ikuti Channel JEJAK PROFESOR - Bersama Menuju Ilmuwan Berkarya.*
#RockyGerung #UNIMED #Mahasiswa #MahasiswaKritis #Wantimpres #AlgoritmaBerbangsa #AlgoritmaBuzzer #CriticalReasoning #KebebasanAkademik #KritikPemerintah #Demokrasi #Kampus #AkalSehat #PolitikIndonesia #PendidikanIndonesia #JEJAKPROFESOR