VRU (5) SEMAKIN DIGENGGAM, SEMAKIN MELEKAT | Bhikkhu Santacitto Thera
STAB Kertarajasa
0:00 / 0:00
VRU (5) SEMAKIN DIGENGGAM, SEMAKIN MELEKAT | Bhikkhu Santacitto Thera
1 414 просмотров · 2 недели назад
STAB Kertarajasa
13 тыс. подписчиков
1 414 просмотров · 2 недели назад
Sering kali kita mengira bahwa pikiran yang baik adalah pikiran yang harus terus mengendalikan, menilai, memilih, dan menentukan apa yang kita sukai atau tidak kita sukai.
Namun, Bhante menjelaskan tentang pikiran pasif, yaitu keadaan batin yang mampu mengamati tanpa langsung terseret oleh perasaan suka maupun tidak suka.
Ketika melihat suatu objek, mendengar sesuatu, melakukan aktivitas, atau berhadapan dengan keadaan tertentu, kita tidak harus selalu memberikan reaksi. Kita bisa mengetahui apa yang sedang terjadi, tetapi tidak perlu ikut terbawa olehnya.
Di sinilah pentingnya belajar mengamati tanpa menggenggam terlalu kuat.
Bhante memberikan gambaran yang menarik, seperti seekor induk harimau yang membawa anaknya dengan menggigit. Gigitannya cukup kuat untuk menjaga anaknya agar tidak terjatuh, tetapi tidak terlalu kuat hingga menyakiti anaknya.
Begitu pula dalam mengamati objek.
Kita perlu cukup sadar untuk mengetahui dan memahami apa yang sedang diamati, tetapi jangan sampai perhatian itu berubah menjadi kemelekatan. Jangan terlalu menggenggam pengalaman, perasaan, pikiran, maupun objek yang sedang kita amati.
Sebab ketika kita menggenggam terlalu kuat, muncul keinginan untuk mempertahankan sesuatu yang kita sukai dan menolak sesuatu yang tidak kita sukai.
Dari sinilah keterikatan mulai terbentuk.
Belajar memiliki pikiran pasif bukan berarti menjadi orang yang tidak peduli, tidak melakukan apa-apa, atau kehilangan semangat dalam beraktivitas. Justru kita tetap dapat melakukan berbagai aktivitas dengan penuh perhatian, tetapi batin tidak harus terseret oleh setiap pengalaman yang muncul.
Kita melihat, tetapi tidak melekat.
Kita mengetahui, tetapi tidak menggenggam.
Kita melakukan, tetapi tidak menjadikan apa yang dilakukan sebagai sesuatu yang harus dimiliki atau dipertahankan.
Pada akhirnya, latihan ini membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam: bukan hanya tidak melekat pada apa yang berada di luar diri, tetapi juga tidak melekat pada diri kita sendiri.
Karena ketika batin tidak lagi terlalu menggenggam, kita memiliki ruang untuk melihat segala sesuatu sebagaimana adanya.
Suka muncul, diketahui.
Tidak suka muncul, diketahui.
Pikiran muncul, diketahui.
Perasaan muncul, diketahui.
Namun kita tidak harus terseret oleh semuanya.
Inilah latihan untuk memiliki batin yang lebih bebas: mengamati tanpa menggenggam, mengetahui tanpa melekat, dan menjalani aktivitas tanpa terseret oleh suka maupun tidak suka.