Potret Raksasa Hilirisasi Nikel di Pulau Obi, dari Tanah Jadi Bahan Baku Baterai Kendaraan Listrik
Tribunnews
0:00 / 0:00
Potret Raksasa Hilirisasi Nikel di Pulau Obi, dari Tanah Jadi Bahan Baku Baterai Kendaraan Listrik
11 237 просмотров · 6 дней назад
Tribunnews
15,7 млн подписчиков
11 237 просмотров · 6 дней назад
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru
TRIBUN-VIDEO.COM - Menilik raksasa hilirisasi nikel di Pulau Pulau Obi.
Pulau yang berada di kawasan Maluku Utara ini sempat menjadi perbincangan lantaran jadi pelopor perusahaan Nikel di tanah air yang berhasil mengolah biji nikel menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik.
Tribunnews.com berkesempatan langsung melihat dan tinggal beberapa hari di Pulau seluas sekitar 3000 KM2 atau hampir lima kali luas Jakarta ini.
Perjalanan ke Pulau Obi dari Ternate jika dengan kapal Ferry membutuhkan waktu sekitar 18 jam.
Di area tambang dan smleter, Tribunnews menyaksikan langsung operasional raksasa hilirisasi nikel di Kawasan Industri Pulau Obi, Desa Kawasi, Halmahera Selatan, Maluku Utara.
Raksasa hilirisassi ini dikelola oleh Harita Nickel atau PT Trimegah Bangun Persada Tbk.
Kawasan industri ini telah resmi ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) sekaligus Objek Vital Nasional (Obvitnas).
PT Harita mendapatkan Izin Usaha Pengelolaan Lahan (IUPL) seluas 110 KM2 atau sekitar 4,3 persen dari luasan Pulau Obi.
Untuk membangun ekosistem pengolahan nikel yang terintegrasi dan berkelanjutan, Harita Nickel telah menanamkan nilai investasi mencapai lebih dari Rp 75 triliun Di kawasan ini.
Terdapat 5 pabrik smelter yang beroperasi secara bertahap dengan dukungan 16 jalur RKEF dan 6 jalur HPAL.
Melalui teknologi RKEF atau Rotary Kiln Electric Furnace, Harita Nickel mengolah bijih nikel kadar tinggi atau saprolit menjadi Feronikel (FeNi) dengan kapasitas produksi 120.000 ton per tahun.
Produk Feronikel ini menjadi bahan baku utama pembuatan baja tahan karat atau stainless steel.
Harita Nickel juga menjadi pelopor pemurnian nikel kadar rendah atau limonit pertama di Indonesia menggunakan teknologi High Pressure Acid Leaching atau HPAL sejak tahun 2021.
Inovasi ini mengubah batuan limonit yang dulunya dianggap limbah menjadi Mixed Hydroxide Precipitate atau MHP untuk bahan baku baterai kendaraan listrik.
Dari pemurnian HPAL tersebut, dihasilkan Nikel Sulfat dengan kapasitas kandungan nikel 66.000 ton per tahun dan Kobalt Sulfat sebesar 6.750 ton per tahun.
Hasil olahan ini kemudian diekspor dan diproses menjadi prekursor, katoda, hingga komponen utama baterai kendaraan listrik.
Di balik megahnya industri smelter, Harita Nickel menerapkan komitmen kelestarian lingkungan dengan mereklamasi 231 hektare lahan pascatambang dengan menanam sengon, johar, cemara laut, gofasa hingga berbagai tanaman buah.
Perusahaan juga membangun kolam penampungan sedimen berkapasitas lebih dari 2 juta m³ untuk mencegah air laut bercampur tanah.
Serta membangun dua Coal Dome raksasa untuk meminimalkan emisi debu batubara sebagai bahan baku listrik di perusahaan tersebut.
Untuk menjaga ekosistem pesisir dan laut, Harita Nickel menanam 3.775 bibit mangrove, serta memasang 1.871 unit terumbu buatan di perairan Obi dan Kayoa.
Selain itu, sebanyak 644 ribu ton slag atau sisa nikel telah dimanfaatkan kembali sebagai material konstruksi infrastruktur kawasan seperti batako dan rumpon.
Operasional kawasan industri ini menyerap lebih dari 26.000 tenaga kerja, di mana sekitar 85 persen merupakan Warga Negara Indonesia dan 45 persen di antaranya adalah warga lokal Maluku Utara.
Menariknya, sekitar 52 persen dari total pekerja merupakan anak-anak muda dari generasi Gen-Z.
Jumlah total tenaga kerja bisa mencapai 36 ribu jika ditambahkan dengan tenaga kerja untuk pengerjaan proyek infrastruktur dan pembangunan pabrik yang terus berkembang.
Harita Nickel juga membangun Desa Kawasi Baru sebanyak 250 unit rumah yang diberikan secara gratis untuk warga desa Kawasi lama.
Rumah tersebut juga dialiri listrik dan air secara gratis.
Selain rumah, di Desa tersebut juga dibangun Balai Pertemuan, kantor Puskesmas Pembantu, dan gereja.
Sekaligus membangun Salam Kawasi atau Belajar Bersama Alam yakni tempat untuk berbagi ilmu kepada warga sekitar bercocok tanam di kebun sehingga menghasilkan petani milenial.
Untuk pegawainya, Harita menyiapkan tempat tinggal atau mess yang dipakai 2-4 orang setiap unit.
Karyawan juga bisa mendapat makan gratis 3 x per hari.
Serta secara gratis bisa menikmati fasilitas olahraga seperti basket, badminton, pingpong, kolam renang hingga area jogging track sepanjang 5 km.
Bahkan ada fasilitas gratis karaoke hingga gedung bioskop. Untuk berbelanja, disiapkan foodmarket besar yang komplit isinya dengan harga standar di Jakarta.
Jika ingin ngopi juga ada cafe serta restoran masakan Nusantara yang harganya tak menguras isi dompet.
(Tribunnews/Yulis Sulistyawan)
Program: Tribunnews Update
Host: Nila Irda
Editor Video: Dedhi Ajib Ramadhani
Uploader: