Перейти к содержимому

🔴 JIMLY ASSHIDIQIUE SOROTI KARHUTLA di Indonesia, Ada Salah Paham Soal Bencana Nasional

TribunMadura Official

0:00 / 0:00

🔴 JIMLY ASSHIDIQIUE SOROTI KARHUTLA di Indonesia, Ada Salah Paham Soal Bencana Nasional

278 просмотров · Трансляция закончилась 11 дн. назад
TribunMadura Official
122 тыс. подписчиков
278 просмотров · Трансляция закончилась 11 дн. назад
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru SEKILAS JAWA TIMUR, BANGKALAN - Kejadian secara berulang kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia menjadi sorotan tajam Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) periode pertama, Prof Dr Jimly Asshiddiqie Dia menjadi narasumber dalam Orasi Ilmiah di Gedung Pertemuan RP Moh Noer Universitas Trunojoyo Madura (UTM), pada Selasa (20/10/2026). Prof Jimly menegaskan, penanganan bencana karhutla yang terjadi hampir setiap tahun di Indonesia tidak cukup hanya dengan memenjarakan orang-orang yang diduga melakukan pembakaran. Harus dicarikan solusi jangka panjang agar kejadian karhutla tidak kembali terulang di masa mendatang. Orasi Imliah yang menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis Ke-45 FH UTM itu mengusung tema, 'Konstitusi Hijau sebagai Fondasi Transformasi Hukum dan Demokrasi Ekologis di Indonesia'. Prof Jimly menekankan, pentingnya konsep Green Constitution tidak hanya digelorkan mahasiswa FH UTM melainkan seluruh mahasiswa di Indonesia. Prof Jimly menegaskan, Pemerintah Indonesia perlu melakukan terobosan hukum yang membuat aturan-aturan normal bisa dikesampingan sementara Bila peristiwa luar biasa semacam ini menerapkan aturan hukum yang normal, nanti akan banyak yang masuk penjara, dan berpotensi terjadi penyimpangan Prof Jimly mengingat kembali peristiwa di Ambon Di mana dokter yang hendak membagikan obat-obatan ke semua kelompok bertikai, justru dianggap melanggar administrasi dan aturan. Maka, Prof Jimly menggarisbawahi, pemerintah, seluruh stakeholder, dan masyarakat mau tidak mau harus membangun kesadaran. negara wajib mempertimbangkan ulang target ekonomi setingg-tingginya, yang justru turut meningkatkan resiko kerusakan lingkungan. Reporter: Ahmad Faisol Host: CIndy Dinda Editor: Anugrah Fitra