Перейти к содержимому

Pedas Itu Rasa Sakit, Kok 2 Miliar Orang Malah Doyan?

Peter Parking

0:00 / 0:00

Pedas Itu Rasa Sakit, Kok 2 Miliar Orang Malah Doyan?

2 094 просмотра · 13 дн. назад
Peter Parking
35 подписчиков
2 094 просмотра · 13 дн. назад
Bayangin kamu nyuap sesendok sambal. Lidah langsung kebakar, keringat netes, mata berair, hidung meler. Padahal sambalnya baru keluar dari kulkas. Nggak ada api, nggak ada luka. Terus kamu bilang apa? "Bu, tambah sambalnya." Kok bisa manusia sengaja nyari rasa sakit di piringnya sendiri? Plot twist-nya: pedas itu sebenarnya bukan rasa. Lidahmu cuma kenal lima rasa dasar, yaitu manis, asin, asam, pahit, dan gurih. Pedas itu sinyal rasa sakit. Lebih tepatnya, rasa sakit palsu. Di video ini kamu bakal tahu: • Kenapa sambal dingin bisa terasa membakar. Di lidahmu ada sensor kecil bernama TRPV1, anggap aja alarm kebakaran mini. Cabai punya zat bernama kapsaisin yang bisa membunyikan alarm itu kayak kunci palsu, jadi otakmu ngira mulutmu kepanasan. • Siapa yang nemuin alarm ini. Ilmuwan David Julius, yang sampai dapat Hadiah Nobel Kedokteran tahun 2021. • Kenapa cabai dibikin pedas. Ternyata cabai nggak lagi ngincer kamu. Pedasnya buat ngusir hewan pengerat yang suka ngunyah bijinya sampai hancur. Burung malah nggak kerasa pedas sama sekali, jadi burunglah yang nyebarin bijinya. • Kenapa manusia malah doyan. Lebih dari dua miliar orang dewasa menikmati pedas, padahal di percobaan psikolog Paul Rozin di sebuah desa di Meksiko, nggak ada satu pun anjing dan babi yang milih kerupuk bercabai. Rozin menyebutnya "benign masochism", artinya menikmati rasa sakit yang aman. Mirip naik roller coaster: tubuh panik, tapi otak tahu kamu aman. • Kenapa ada yang kuat pedas dan ada yang nggak. Spoiler: bukan karena lidahnya kebal. • Cabai ternyata bukan tanaman asli Indonesia. Cabai berasal dari benua Amerika dan kemungkinan besar baru sampai ke Nusantara sekitar abad ke-16, lewat jalur dagang kapal Portugis. • Terus dulu nenek moyang kita bikin pedas pakai apa? Pakai cabya alias cabe jawa (kerabatnya lada, bukan saudara cabai), plus lada dan jahe. Ternyata semuanya membunyikan alarm yang sama di lidah. Bonus: menurut sejarawan kuliner, kata "cabai" kemungkinan besar malah minjem nama cabya. Sumber: Rozin dkk., "Glad to be sad, and other examples of benign masochism", Judgment and Decision Making 2013 NPR/WNYC 2015, wawancara Paul Rozin soal desa dekat Oaxaca Ulasan Nobel 2021 untuk David Julius dan Ardem Patapoutian (PMC) Tewksbury & Nabhan, Nature 2001, cabai liar dan burung (ScienceDaily) Byrnes & Hayes 2013, kepribadian dan suka pedas (Penn State) Kompas Travel 2019, "Mengenal Cabya, Nenek Moyang Cabai di Nusantara" Sekarang giliran kamu. Kamu tim sambal level berapa? Terus bayangin kamu terlempar ke dapur Jawa zaman Majapahit, tanpa cabai sama sekali. Sambal apa yang bakal kamu ulek: cabya, lada, atau jahe? Tulis jawabanmu di kolom komentar! 0:00 Misteri sambal yang bikin nagih 0:25 2 miliar orang vs hewan di desa Meksiko 1:22 Pedas itu bukan rasa 1:48 Alarm palsu sampai rahasia cabya 7:32 Rangkuman empat poin 7:54 Pedas di masa kini 8:41 Kamu tim sambal level berapa?