FOOD TRACEABILITY DI PASAR RAKYAT BERSAMA MAHASISWA
Arsitek Pasar
0:00 / 0:00
FOOD TRACEABILITY DI PASAR RAKYAT BERSAMA MAHASISWA
16 просмотров · 3 дн. назад
Arsitek Pasar
42 подписчика
16 просмотров · 3 дн. назад
DIGITALISASI PASAR RAKYAT, apa kabar?
Pemerintah kita memang suka bikin gimmick, misalnya tentang digitalisasi pasar rakyat. ADOPSI DIGITAL, ini bahasa yang lebih ilmiah. Niatnya sih mulia, ingin MENAIKKAN NILAI EKONOMI pedagang pasar tradisiona. Tidak salah, to?
Itu kalau KURANG BLUSUKAN. Bahasa ilmiahnya, kurang RISET PARTISIPATIF di pasar rakyat. Pertanyaan kritis yang muncul dalam riset: apakah PEDAGANG PASAR memang ingin menaikkan perdagangannya dengan ADOPSI DIGITAL?
Ternyata tidak selalu. Sebagian besar pedagang pasar berdagang sebagai SUMBER PENGHIDUPAN, “Nglakoni” dalam bahasa Jawa. Beberapa justru melihat ADOPSI DIGITAL sebagai BEBAN, karena NAMBAH PEKERJAAN. Setelah usai berjualan di pasar, mereka ingin pulang dan beristirahat.
Itu temuan riset. Cukup? Padahal, kalau pedagang mau melakukan adopsi digital, tentu mereka LEBIH ADAPTIF. Lalu, bagaimana caranya mereka mau melakukan adopsi digital, mau tambah capek belajar teknologi dan NAMBAH KERJAAN? Tidak semua pedagang kalkulasinya ekonomi, banyak pedagang pasar justru berdagang karena motif KULTURAL.
Di sini, CREATIVE THINKING ala arsitek dibutuhkan: menciptakan LINTASAN BARU untuk memecahkan masalah. Dan lintasan baru itu muncul lewat…
MAHASISWA!
Lho, kok? Kebetulan ada PASAR RESIK JATINANGOR yang lokasinya tak jauh dari kampus-kampus di Jatinangor, termasuk Kampus ITB. Beberapa mahasiswa bisa diberi tugas untuk mewawancari pedagang, mengumpulkan data untuk MELACAK BAHAN PANGAN. Food Traceability.
Ini skenarionya, sebagai bagian dari RISET PARTISIPATIF. Mahasiswa diberi subsidi untuk membeli kebutuhan pangan mereka. Subsidi itu HARUS DIBELANJAKAN di Pasar. Nah, karena di subsidi, maka mereka diberi tugas tambahan: MEWAWANCARAI PEDAGANG.
Siapa yang untung?
PEDAGANG? Jelas, mereka dapat uang karena ada tambahan KONSUMEN.
MAHASISWA? Jelas, mereka dapat pasokan untuk kebutuhan PANGAN mereka.
PENELITI? Jelas, dapat data dari pedagang dan mengajari mahasiswa untuk BERINTERAKSI SOSIAL.
Bukan hanya itu, membawa mahasiswa ITB ke pasar rakyat ternyata memberikan suasana tersendiri, suasana yang lebih membuat semangat. Mahasiswa bersemangat karena belajar berinteraksi dengan masyarakat, belajar bagaimana nanti ILMU mereka bisa BERMANFAAT. Pedagang hepi karena disapa mahasiswa: MASA DEPAN BANGSA di depan mata mereka! Beberapa pedagang memberikan HARGA SPESIAL buat mahasiwa! Dan mahasiswa girang: “Pak, barang-barang di pasar harganya lebih murah daripada di toko swalayan”. Dasar anak kota yang biasa belanja di mal... :-D
Kata Kim Dovey, “design is assemblage desire for better future”. Rajutan kehendak: kehendak peneliti, kehendak mahasiswa, kehendak pedagang. Namun Bruno Latour punya konsep yang lebih konkrit: “design is about compositing human and nonhuman actors toward a COMMON WORLD”. Ya, DUNIA BERSAMA.
Sejenak bersama mahasiswa di pasar, sejenak kami membangun dunia bersama