Перейти к содержимому

Cerita Pemenang Debat Bahasa Mandarin saat Jalan-Jalan ke Tiongkok | DisMorning

DI's Way

0:00 / 0:00

Cerita Pemenang Debat Bahasa Mandarin saat Jalan-Jalan ke Tiongkok | DisMorning

9 594 просмотра · 21 ч назад
DI's Way
265 тыс. подписчиков
9 594 просмотра · 21 ч назад
Dismorning kali ini menghadirkan cerita menarik dari para pemenang lomba debat Bahasa Mandarin yang mendapat kesempatan berkunjung langsung ke Tiongkok. Bersama Dahlan Iskan dan dipandu Heraldha Savira (Sasa), perbincangan kali ini mengajak para juara dari Pondok Pesantren di Pamekasan dan Universitas Negeri Semarang (Unnes) berbagi pengalaman selama berada di Shenzhen, mulai dari mempraktikkan bahasa Mandarin hingga mengenal lebih dekat kehidupan dan kemajuan teknologi di Tiongkok. Memasuki hari ketiga perjalanan, para peserta menceritakan pengalaman mereka menggunakan bahasa Mandarin dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari bertanya kepada warga lokal, mengambil paket, berbelanja, hingga melakukan tawar-menawar di toko. Mereka mengakui bahwa berbicara langsung dengan masyarakat Tiongkok memiliki tantangan tersendiri, terutama karena kecepatan bicara dan perbedaan dialek yang tidak selalu sama dengan bahasa Mandarin yang dipelajari di sekolah maupun pesantren. Menariknya, kemampuan bahasa Mandarin mereka mendapat apresiasi dari warga lokal. Beberapa peserta bahkan mendapat pujian karena logat dan kemampuan berbicara mereka. Dahlan Iskan juga mengungkap bahwa belajar bahasa Mandarin bukan hanya soal bisa berkomunikasi, tetapi juga membuka akses terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, dan berbagai peluang yang berkembang di Tiongkok. Salah satu cerita yang mencuri perhatian datang dari Taufik, peserta berusia 16 tahun dari Pondok Pesantren di Pamekasan. Ia mengaku tertarik belajar bahasa Mandarin karena melihat kemajuan Tiongkok dan ingin membawa perubahan bagi Indonesia. Bahkan, ia punya cita-cita menjadi presiden agar bisa ikut memajukan negaranya. Taufik juga mampu menjelaskan tentang robot menggunakan bahasa Mandarin, sesuatu yang menurut Dahlan tidak mudah karena membutuhkan penguasaan kosakata teknis. Perjalanan ini juga memberikan pengalaman baru bagi para peserta saat mengunjungi pameran robot. Mereka melihat berbagai teknologi, mulai dari robot yang bisa menari, AI yang menjadi pemandu, hingga kacamata pintar yang dapat menerjemahkan bahasa melalui visual dan audio. Pengalaman tersebut semakin membuka wawasan mereka tentang perkembangan teknologi di Tiongkok dan pentingnya menguasai bahasa Mandarin untuk menyerap ilmu dari negara tersebut. Bagaimana rasanya mempraktikkan bahasa Mandarin langsung di negara asalnya? Apa saja pengalaman menarik para santri dan mahasiswa selama di Tiongkok? Dan mengapa anak muda Indonesia perlu mulai belajar bahasa Mandarin untuk menghadapi masa depan? Saksikan Dismorning, ngobrol berbagai hal bersama Dahlan Iskan. setiap hari live di YouTube Energi Disway pada pukul 05.00 WIB Jangan sampai ketinggalan! #dahlaniskan #disway #dismorning #bahasamandarin #belajarmandarin #lombadebatmandarin #debatmandarin #santri #pesantren #tiongkok #china #shenzhen #pendidikanindonesia #teknologicina #robotika #artificialintelligence #generasimuda #mahasiswa #belajarbahasaasing #diswaymandarindebate