Перейти к содержимому

Kebyar Jaya Semara [4k] – Baroque music of Bali. by LKB Saraswati, Balinese performing arts studio.

Ni Cie Dna

0:00 / 0:00

Kebyar Jaya Semara [4k] – Baroque music of Bali. by LKB Saraswati, Balinese performing arts studio.

459 просмотров · 4 месяца назад
Ni Cie Dna
176 подписчиков
459 просмотров · 4 месяца назад
Bizzare, jedar, kebyar! 400 tahun silam di Italia, hadir revolusi musik. Dari yang manis santun menjadi “jedar”. Kata mereka, ini musik yang “bizzare!” 300 tahun kemudian di Bali, 12.000 km dari Venesia, hadir revolusi serupa. Dari alunan gamelan yang tenang tertib, menjadi tabuh “menggelegar”. Kata mereka, ini musik Kebyar! Di Eropa tempo dulu, genre musik baru itu dinamakan musik Baroque, menandai hadirnya periode-periode musik klasik barat. Baroque—Barok—adalah istilah yang dipinjam dari langgam arsitektur, terutama di Jerman dan Austria abad itu. Amat dekoratif, penuh ornamen rumit, dan (bagi yang tak suka) tumpang tindih. Seperti itulah musik Barok. Penuh hiasan nada detail yang padat, jalin menjalin. Kontras tetapi membentuk harmoni dalam banyak melodi sekaligus. Polifoni. Awalnya, Filsuf Perancis Jean-Jacques Rousseau yang terpandang menilainya sebagai harmoni yang membingungkan, melodinya kasar dan kurang alamiah. “Bizzare”. Aneh. Tak lazim. Namun kemudian, siapa tak terpukau dengan “Four Seasons”-nya Antonio Vivaldi, karya-karya Johann Pachelbel ataupun Johann Sebastian Bach? Di Bali, perubahan terjadi pada awal Abad ke-20. Penjajah Belanda hadir dan kerap bergesekan dengan kaum bangsawan Bali. Puri menjadi terkucil. Demikian pula kegiatan kesenian, termasuk gambelan, yang sebelumnya berpusat di lingkup istana. Namun, tradisi bermusik itu tak mati. Justru deras merembes ke kalangan rakyat biasa. Tahun 1915 di desa-desa Bali Utara lahirlah genre musik baru menggunakan ensambel yang sudah ada: berbagai instrumen perkusi metallophone, ditambah kendang, suling dan sebagainya. Genre ini berbeda dari irama yang hadir sebelumnya seperti gamelan Semar Pegulingan yang alunannya manis dan lembut. Tabuhan musik rakyat Bali Utara itu meledak-ledak, cepat, dengan perubahan tempo yang tiba-tiba. Seperti Barok, genre megambel ini juga kaya dengan teknik saling kunci, interlocking. Metode bermusik di mana dua atau lebih lebih instrumen memainkan melodi yang berbeda-beda tapi saling mengisi ruang secara simultan. Serta-merta, genre musik gamelan baru ini memperoleh nama: Gong Kebyar. Kebyar: cepat, kilat, jedar! Seperti musik Barok, Gong Kebyar langsung memukau begitu keterkejutan akan kehadirannya pupus. Gong Kebyar pun menjadi lingua franca musik Bali kepada dunia. Tabuh Kebyar Jaya Semara Repertoar (tabuh) ini adalah salah satu karya maestro karawitan I Wayan Beratha tahun 1964. Perhatikan teknik permainan jalin-menjalin “saling berlomba” antara tungguhan atau instrumen riyong (baris ketiga), gangsa (dua baris terdepan) ceng-ceng gecek (kanan depan) sepanjang lagu. Cepat, saling isi, indah. Memesona! Siswa Penabuh: Javas, I Gusti Agung Audrey Indreswari, Ni Komang Avaralana Shanti, Ni Kadek Aubrey Avaniswari, Made Sheina Astini P, Ni Putu Mahadewi Kinara, Ni Made Paramita Putri S, Theodorarina Aiswarya Amadea, Chiquita Priscila Silalahi, Jeannette Bunga Denadine Kalyanasakanti Santhani, Ni Putu Veda Kamaratih. Guru Tabuh: I Ketut Budiyasa Sanggar: LKB Saraswati Acara: Uji Pentas, Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 13 April 2025. Referensi Kennedy, Michael (2005). Dictionary of Music. Hoo, Near Rochester: Grange Books Newland, Sonya (ed) (2000). The Billboard Illustrated Encyclopedia of Classical Music. New York: Billboard Books Tenzer, Michael (1998). Balinese Music. Hong Kong: Periplus Editions #balinesegamelan #balinesemusic #indonesianculture #taribali #balinesedance