Перейти к содержимому

Istri Keringat Dingin, Candaan Jitu Kang Dedi Mulyadi ke Bupati Bekasi: Ngikutin Kaya Saya Bebas

Tribun Bengkulu

0:00 / 0:00

Istri Keringat Dingin, Candaan Jitu Kang Dedi Mulyadi ke Bupati Bekasi: Ngikutin Kaya Saya Bebas

151 509 просмотров · 17 ч назад
Tribun Bengkulu
668 тыс. подписчиков
151 509 просмотров · 17 ч назад
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan pesan kepada Bupati Bekasi, Dr. Asep, agar lebih banyak turun ke lapangan dan memprioritaskan pelayanan masyarakat. Pesan tersebut disampaikan dalam pidatonya seusai memimpin upacara pelantikan Bupati Bekasi untuk sisa masa jabatan 2025–2030, Jumat (23/10/2026). Dalam kesempatan itu, Dedi Mulyadi, yang akrab disapa Kang Dedi, menyelipkan sejumlah candaan ketika mengingatkan pentingnya keseimbangan antara tugas sebagai kepala daerah dan kehidupan keluarga. Salah satu bagian yang mengundang perhatian adalah ketika Dedi menyarankan Bupati Bekasi untuk mencontoh pola kerjanya yang mengharuskan pemimpin lebih banyak menghabiskan waktu untuk melayani masyarakat. “Kalau istri bawel, ayo mau pilih lagi yang baru apa mengikut kayak aku?” ujar Dedi dalam pidatonya. Ia kemudian menegaskan bahwa jabatan kepala daerah merupakan amanah untuk masyarakat, bukan semata-mata untuk kepentingan keluarga. “Karena bupati hari ini bukan milik istri dan anaknya, milik rakyat Bekasi, titik,” katanya. Minta Bupati Aktif Turun ke Lapangan Dedi meminta Bupati Bekasi tidak hanya berkantor dan menerima tamu, tetapi juga rutin memantau kondisi wilayah secara langsung. Ia bahkan menggambarkan rutinitas yang menurutnya perlu dilakukan seorang kepala daerah, mulai dari bangun dini hari, berkeliling menggunakan sepeda motor, memeriksa gang-gang permukiman, hingga memastikan pelayanan di kantor kelurahan berjalan dengan baik. Menurut Dedi, pemimpin perlu mengetahui secara langsung kondisi masyarakat, termasuk memastikan tidak ada pungutan yang tidak semestinya dalam pelayanan publik. Ia juga menekankan bahwa kepala daerah harus berani mengevaluasi bawahannya apabila pekerjaan tidak berjalan sesuai target. “Saya minta Pak Bupati, jangan jadi gubernur kantoran, harus jadi bupati kantoran, harus jadi bupati selokan, harus jadi bupati trotoar, bupati sawah, bupati kebun, bupati pabrik, muter tiap hari,” ujar Dedi. Candaan soal Istri Disampaikan di Tengah Pesan Kepemimpinan Candaan mengenai istri tersebut muncul ketika Dedi menjelaskan tuntutan waktu dan tanggung jawab seorang kepala daerah. Ia menggambarkan bahwa pemimpin harus siap bekerja keras dan tidak menjadikan urusan pribadi sebagai alasan untuk mengabaikan kepentingan masyarakat. Dalam bagian lain pidatonya, Dedi juga melontarkan gurauan kepada Bupati Bekasi mengenai persoalan istri. “Dr. Asep itu takutnya cuma sama istrinya kok saya tahu,” ucapnya. Dedi kemudian kembali menyampaikan candaan ketika membahas penataan wilayah dan fasilitas umum. “Dengan satu pesan: bini tidak boleh tambah,” katanya, disambut tepuk tangan menurut kutipan pidato yang diberikan. Ia melanjutkan gurauannya dengan membandingkan kondisi rumah tangga Bupati Bekasi dengan dirinya. “Gubernur aja satu aja kaga punya, lu mau tambah jadi dua,” ujar Dedi. Pernyataan tersebut disampaikan dalam suasana pidato yang memadukan humor dengan arahan kepada kepala daerah. Tidak ada keterangan dalam materi pidato yang menunjukkan bahwa pernyataan itu merupakan teguran khusus terkait persoalan rumah tangga Bupati Bekasi. Bekasi Diminta Berbenah Di luar candaan tersebut, Dedi menyoroti sejumlah persoalan yang menurutnya perlu segera ditangani di Kabupaten Bekasi, seperti sampah di sungai, kondisi trotoar, fasilitas umum, penataan kawasan industri, serta pengelolaan ruang terbuka. Ia juga meminta agar pembangunan tetap memperhatikan keberadaan sawah, sungai, dan rawa yang menjadi bagian dari karakter wilayah Bekasi. Selain itu, Dedi menekankan pentingnya transparansi dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah, peningkatan kualitas infrastruktur, serta pemanfaatan anggaran daerah untuk kepentingan masyarakat. Ia meminta Bupati Bekasi memimpin langsung pembenahan tersebut dengan memberikan target kerja yang jelas kepada camat, lurah, dan kepala organisasi perangkat daerah. Menutup pesannya, Dedi menekankan pentingnya keberanian dan integritas dalam menjalankan pemerintahan. “Kalau udah maju, enggak boleh mundur. Kalau sudah digas, enggak boleh ngerem,” tuturnya. Baca Berita Lengkap : https://bengkulu.tribunnews.com/ Editor Video: Muhammad Maulana Ahmad Al H Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru. Baca berita di ------- http://bengkulu.tribunnews.com/ Follow Instagram ---------   / tribun_bengkulu   Like fanspage ---------   / tribunbengkulu