Pengakuan Letkol Untung, Lolosnya Jenderal Nasution Membuat Kami Panik
Intel Melayu
0:00 / 0:00
Pengakuan Letkol Untung, Lolosnya Jenderal Nasution Membuat Kami Panik
561 880 просмотров · 3 года назад
Intel Melayu
314 тыс. подписчиков
561 880 просмотров · 3 года назад
Pengakuan Letkol Untung, Lolosnya Jenderal Nasution Membuat Kami Panik
Pada 1 Oktober 1965, peristiwa berdarah meletus di Jakarta. Mengutip buku," Suasana 1 Oktober 1965, Setelah Pecah Pemberontakan G30S PKI," yang disusun Pusat Data dan Analisis Tempo, dalam peristiwa berdarah pada dini hari 1 Oktober 1965 itu, enam jenderal penting di lingkungan Angkatan Darat dapat diculik dan dibunuh. Tapi satu jenderal yang juga jadi target penculikan bahkan target utama penculikan yakni Jenderal Abdul Haris Nasution lolos.
"Saya lolos karena tangan Tuhan," kata Nasution saat diwawancarai wartawan Majalah Tempo.
Padahal ketika itu, pengawal di rumah Nasution sebetulnya adalah anggota Kolonel Abdul Latief, salah satu pentolan G30S PKI. Sebelum penyerbuan itu, Latief diketahui sempat mendatangi rumah Jenderal Nasution dengan dalih untuk mengontrol anak buahnya. Diduga ia sambil melakukan aksi pengintaian.
Jenderal Nasution meloloskan diri dengan meloncati tembok samping rumahnya dan bersembunyi di balik sebuah drum di halaman gedung Kedutaan Irak. Untungnya, pasukan Pasopati yang ditugaskan untuk menculik Nasution, nampaknya tak berani memeriksa gedung kedutaan asing itu, walau sebetulnya waktu itu gedung itu kosong. Penghuninya sedang pulang ke Baghdad.
Pasukan penculik kemudian hanya mengangkut Letnan Satu Pierre Tendean, pengawal atau ajudan Nasution, yang mereka kira adalah Jenderal Nasution itu sendiri.
Menurut Pusat Data dan Analisis Tempo dalam buku yang disusunnya, lolosnya Jenderal Nasution belakangan diketahui menimbulkan kekhawatiran bagi pasukan Gestapu. Mereka sangat panik, sang jenderal yang terluka itu akan mengumpulkan pengikutnya untuk melakukan aksi balasan.
Karena itu ditengah kepanikan yang melanda komplotan Gerakan 30 September, paginya Letkol Untung Syamsuri yang didaulat jadi Komandan Gestapu memerintahkan pasukannya yang ada di sekitar Monas untuk menguber Nasution.
“Tapi gagal, karena rupanya pasukan Batalyon 454 yang saya tugasi tak mengenal Nasution dan tak tahu di mana rumahnya," kata Letkol Untung kelak di hadapan sidang Mahkamah Militer Luar Biasa yang mengadilinya setelah dia tertangkap.
Menurut Pusat Data dan Analisis Tempo, ketika didengar RRI dan kantor pusat telekomunikasi dapat direbut pasukan di bawah kendali Pangkostrad Mayjen Soeharto, komplotan Gerakan 30 September tambah panik. Situasi jelas sudah berbalik. Mereka sedang terpojok. Pada waktu itu di sebuah rumah perwira AURI di Halim, para pentolan G30S sudah kalut. Sjam Kamaruzaman, Ketua Biro Khusus PKI masih mencoba mengangkat semangat teman-temannya dengan mengusulkan gerakan lanjutan, melakukan serangan balasan.
“Saran itu tidak kami jawab. Pada umumnya pikiran kita amat dipengaruhi akan tidak suksesnya gerakan Pasopati menculik Nasution. Ada laporan pasukan di Monas seharian tidak makan dan sudah mengundurkan diri dari posnya. Laporan itu membuat komando kami Jadi ruwet," begitu pengakuan Untung kemudian di hadapan sidang Mahkamah Militer Luar Biasa.
Yang lebih gawat, menurut Pusat Data dan Analisis Tempo, komplotan Gerakan 30 September gagal pula menemui Presiden Soekarno pagi hari itu. Padahal, menurut rencana setelah para operasi Pasopati berhasil mereka akan menghadap Soekarno di Istana melaporkan bahwa mereka telah menindak “Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta”.
Bila restu Presiden diperoleh, kemenangan segera berada di tangan. Maka, pukul 07.00, pagi itu dua wakil ketua Dewan Revolusi, Brigjen Soepardjo dan Letkol. Heru Atmodjo, ditemani Mayor Bambang Soepeno, Komandan Batalyon 530 dan Mayor Sukirno, Komandan Batalyon 454 berada di Istana Merdeka. Tapi Bung Karno ternyata urung ke Istana. Mereka gagal dapat info yang tepat.
Banyak lagi kekacauan lain. Pasukan Pasukan Gerak Tjepat yang direncanakan tak pernah bergabung. Menurut Letkol Untung, itu disebabkan mobil untuk mengangkut yang menjadi tanggung jawab Mayor Sujono tak kunjung datang. Waktu itu, kendaraan memang bukan soal gampang di Jakarta.
Pasukan tank dan panser yang menurut Sjam Kamaruzaman dan Pono sebelumnya akan datang dari Bandung dipimpin orang “binaan” mereka, Letnan Susilo, ternyata tak pernah ada. Dalam rapat 29 September 1965, soal ini sempat membuat berang Kolonel Latief sebab ia sudah mengecek dan mengetahui soal itu belum beres. "Bung, ini soal besar. Ini bukan hal main-main," kata Latief.
Dengan tenang Sjam menjawab, “Biar nanti saya mengeceknya." Terkadang, bila terpojok, Sjam berdalih soal itu akan dilaporkan dan pasti akan diselesaikan Ketua. Kalau sudah begitu, semua akan diam. "Yang dimaksudnya adalah Aidit, Ketua PKI,"kata Untung di hadapan hakim Mahkamah Militer Luar Biasa.
Lebih dari itu, tulis Pusat Data dan Analisis Tempo, pasukan Gestapu yang menjaga Istana dan sekitarnya, seharian tidak diberi makan. Apalagi sentral komando gerakan di Gedung Penas, di Jalan Jakarta By Pass dan siangnya pindah ke Halim, rupanya tak mengadakan komunikasi yang jelas dengan pasukannya.