Wakil Komandan Cakrabirawa Marah Anak Buahnya Terlibat Penculikan Enam Jenderal
Intel Melayu
0:00 / 0:00
Wakil Komandan Cakrabirawa Marah Anak Buahnya Terlibat Penculikan Enam Jenderal
83 113 просмотров · 3 года назад
Intel Melayu
314 тыс. подписчиков
83 113 просмотров · 3 года назад
Wakil Komandan Cakrabirawa Marah Anak Buahnya Terlibat Penculikan Enam Jenderal
Wakil Komandan Cakrabirawa marah setelah tahu anak buahnya terlibat penculikan para jenderal. Wakil Komandan Cakrabirawa yang dimaksud adalah Kolonel Saelan. Cakrabirawa sendiri adalah pasukan pengawal Bung Karno, Presiden Republik Indonesia. Ketika itu saat peristiwa penculikan para jenderal terjadi pada awal Oktober 1965 yang jadi Komandan Cakrabirawa adalah Brigjen Sabur.
Nah, Saelan, Kolonel saat itu pangkatnya menjabat sebagai Wakil Komandan Cakrabirawa. Ada pun Letkol Untung Syamsuri, salah satu pelaku Gerakan 30 September, komplotan yang melakukan penculikan terhadap sejumlah jenderal penting Angkatan Darat ketika itu adalah Komandan Batalyon 1 Kawal Kehormatan Resimen Cakrabirawa. Jadi Untung ini, adalah anak buah Sabur dan Saelan di Cakrabirawa.
Dikutip dari artikel berita berjudul,"G30S gagal, Untung ditangkap, Letnan Dul Arief ditembak mati," yang dimuat di situs berita Merdeka.com, diceritakan pasca penculikan para jenderal dan setelah diumumkannya Gerakan 30 September dan Dewan Revolusi yang disiarkan lewat RRI muncul aksi balasan dari Angkatan Darat yang dimotori oleh Pangkostrad Mayjen Soeharto dan Jenderal Nasution.
Operasi penumpasan terhadap Gerakan 30 September pun dilancarkan. RRI dan kantor telekomunikasi yang sebelumnya dikuasai komplotan Gerakan 30 September direbut pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD). Lalu setelah itu, Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma diserbu Baret Merah.
Dapat aksi serangan balik dari Angkatan Darat, para pentolan Gerakan 30 September panik dan akhirnya kocar kacir melarikan diri. Apalagi, setelah Bung Karno tak memberi restu atas gerakan tersebut.
Ketika itu, setelah tahu Gerakan 30 September yang dipimpinnya dipastikan gagal, Letkol Untung Syamsuri sebagai komandan gerakan sekaligus sebagai Ketua Dewan Revolusi membubarkan pasukannya. Lalu dari Lubang Buaya yang jadi basis komplotan tersebut, Untung melarikan diri.
Brigjen Soepardjo, salah satu pentolan Gerakan 30 September, dalam catatannya yang kemudian disita tentara setelah dia tertangkap, menyayangkan sikap Letkol Untung. Baginya, sikap Letkol Untung itu bukan sikap seorang komandan. Tapi sikap seorang pengecut.
"Sebagai komandan Untung memberikan keterangan kemana harus lari, lalu di mana daerah aman. Kapan bertemu kembali. Tapi pasukan itu dibubarkan seperti membubarkan anak ayam," begitulah menurut Soepardjo.
Setelah sempat sembunyi di daerah Jakarta, Letkol Untung kemudian berniat kabur ke Jawa Tengah. Selama sepuluh hari dia bersembunyi di Jakarta.
Lalu, dengan baik bis, Letkol Untung coba melarikan diri ke Jawa Tengah. Daerah Kebumen jadi tujuannya. Kebumen adalah kampung halamannya. Tapi saat bis baru sampai Tegal, ada pos pemeriksaan dari tentara. Mungkin karena takut Untung malah turun dari bis. Karena tergesa-gesa dan mencurigakan, Untung pun diteriaki copet. Letkol Untung sempat dipukuli massa.
Setelah itu, menurut Merdeka.com dalam artikel berita yang dimuatnya, Letkol Untung diserahkan pada polisi militer setempat. Kemudian Untung dibawa ke Cirebon dan diserahkan kepada Kolonel Witono, Komandan Militer di sana. Dari Cirebon, Untung dibawa ke Bandung ke Kodam Siliwangi. Baru dari Kodam Siliwangi dengan pengawalan ketat, Letkol Untung dibawa ke Jakarta dan diserahkan ke Kostrad.
Untung kemudian di seret ke muka pengadilan Mahkamah Militer Luar Biasa. Oleh Hakim Mahkamah Militer Luar Biasa Untung divonis hukuman mati. Komandan Batalyon 1 Kawal Kehormatan Resimen Cakrabirawa yang juga pernah terlibat dalam pemberontakan PKI di Madiun itu meregang nyawa di depan regu tembak yang mengeksekusinya.
Sementara itu Letnan Satu Dul Arif, komandan kompi di Batalyon 1 Cakrabirawa yang didapuk jadi komandan Pasopati, pasukan penculik para jenderal, setelah Gerakan 30 September gagal juga panik dan bingung. Dul Arif pun sama seperti Untung coba melarikan diri. Dul Arif mencoba lari ke Semarang, ke markas kesatuan asalnya yakni ke Yon 454 yang ada di Srondol, Semarang.
Dul Arif dengan anak buahnya pun lari dari Jakarta. Tapi menurut Merdeka.com dalam artikel yang dimuatnya, gara-gara kelaparan, pasukan Cakrabirawa itu berhenti di Cirebon. Lalu mampir ke Markas Polisi Militer (PM) Cirebon. Mereka minta makan di sana.
Komandan Polisi Militer yang sudah mengetahui soal peristiwa Gerakan 30 September pun segera melapor ke Markas Resimen Cakrabirawa, bahwa ada 28 anggota Cakrabirawa dan 21 anggota Yon 454 ditambah dua orang dari Brigif I di Markas Polisi Militer Cirebon.
Dapat laporan itu, Wakil Komandan Resimen Cakrabirawa Kolonel Maulwi Saelan segera memerintahkan agar anak buahnya yang sedang ada di Cirebon dijemput.
"Kami segera memerintahkan agar pasukan itu dijemput," kata Saelan dalam kesaksiannya.
Pasukan Cakrabirawa yang di Cirebon pun lantas di bawa ke asrama di Tanah Abang. Setelah anak buahnya tiba di asrama Cakrabirawa di Tanah Abang, Saelan meluapkan kemarahannya.