Перейти к содержимому

Dustamu !

Sejahtera Girsang

0:00 / 0:00

Dustamu !

2 просмотра · 20 ч назад
Sejahtera Girsang
130 подписчиков
2 просмотра · 20 ч назад
Kau muncul lagi, persis saat debu badai sudah reda, Dengan sekarung janji busuk yang sudah basi tak ada harga. Bilang mau jujur, setelah topengmu rontok satu per satu, Mempertontonkan muka asli yang selama ini sembunyi di balik kata palsu. Tapi buku ceritaku sudah lembap oleh air mata yang kau acuhkan, Menyisakan remah-remah hati yang tak sudi lagi dipulihkan. Kau datang bawa lilin, lalu sibuk menepuk debu di ambang pintu, Menaruh jaket di pundakku, padahal dingin ini tak butuh tampang baru. Kau geser kursi, menutup jendela, seolah rumah ini masih bisa diyakinkan, Lalu menyodorkan tangan saat aku sudah belajar bangun tanpa pegangan. Kau ingin membasuh luka dengan kain hangat dan suara yang dibuat lembut, Mengubah penyesalan jadi adegan kecil yang dipentaskan di ruang sempit itu. Refrain: Cermin pecah tak utuh oleh maaf yang dipaksa! Serpihnya tetap tajam, tak reda oleh air mata. Mengaku bertelut setelah anak panah di dada, Bukan bakti—cuma takut tak bisa berdusta lagi! Emasmu yang palsu cuma kilap kuburan, tak akan jadi suci meski disiram waktu, Di bawah lampu yang redup, baunya tetap tengik—tipis di luar, busuk di kalbu. Kau datang bukan membawa tobat, cuma menambal jejak yang sudah menganga, Saat sudut ruangan menyempit, mulutmu mendadak manis, tapi mata tetap serupa belukar yang lapar. Pengakuanmu lahir bukan dari hati, melainkan dari langit-langit yang menekan tengkukmu pelan-pelan, Jadi tak usah pura-pura jadi penyelamat; kau cuma menuntun bayangmu sendiri pulang ke kandang. Kau ingin menambatkan aku di dermaga yang dulu kau bakar sampai hitam dan dingin, Tapi yang kau panggil pulang itu sudah lama mati—aku cuma lewat, membawa sunyi yang tak bisa kau miliki. Kepercayaan yang gugur tak seperti daun yang tumbuh di musim semi, Ia mati sampai ke akar, meninggalkan tanah yang tandus dan sepi. Tak perlu lagi kau rapal mantra penyesalan di atas altar yang runtuh, Sebab jiwa yang kau lukai kini telah memilih jalan untuk menyembuh. Simpan saja lilin dan kata manismu itu, Fajarku tak butuh terang dari dustamu. Aku sudah pergi, dan itu bukan berita buatmu, Kau telat datang dengan wajah pura-pura pilu. Pintu ini sudah terkunci rapat untuk namamu, Jangan repot mengetuk—tak ada yang sisa di ruangku. ‪@GlobalMusik_ID‬ ‪@AquariusMusikindo‬ ‪@NagaswaraOfficial‬ ‪@warnerindonesia‬ ‪@INDmusikmix‬ ‪@DTSMusikaStudio‬ ‪@wahanamusik‬