Перейти к содержимому

Ini Kesaksian Putri DI Panjaitan Saat Ayahnya Dibunuh dengan Brutal

Intel Melayu

0:00 / 0:00

Ini Kesaksian Putri DI Panjaitan Saat Ayahnya Dibunuh dengan Brutal

7 025 просмотров · 3 года назад
Intel Melayu
315 тыс. подписчиков
7 025 просмотров · 3 года назад
Ini Kesaksian Putri DI Panjaitan Saat Ayahnya Dibunuh dengan Brutal Ini kesaksian dari salah seorang putri DI Panjaitan saat tragedi subuh jahanam terjadi di rumahnya pada awal Oktober 1965. DI Panjaitan yang dimaksud adalah Donal Isaac Panjaitan, salah satu dari enam jenderal yang jadi korban penculikan dan pembantaian Komplotan G30S PKI pada 1 Oktober 1965.  Putri DI Panjaitan itu bernama  Catherine Panjaitan, putri sulung dari Pahlawan Revolusi tersebut. Kesaksian Catherine Panjaitan ini dimuat di Majalah Tempo Edisi Nomor 32 Tahun XIV 6 Oktober 1984 yang kemudian dimuat ulang dalam buku," Kisah Malam 30 September 1965 dan Perjalanan PKI, " yang disusun Pusat Data dan Analisis Tempo.  Dalam kesaksiannya, Catherine Panjaitan bercerita pada  30 September 1965 itu, sepulang dari sekolah di SMA Tarakanita, waktu itu ia sudah menginjak Kelas I, dia meminta izin Papinya Brigjen DI Panjaitan  agar diperbolehkan mengikuti apel di Senayan yang diwajibkan sekolah waktu itu. Tapi Papinya melarang. "Pokoknya, kamu jangan pergi,” begitu kata Brigjen Panjaitan, papi atau ayahnya Catherine Panjaitan.  Menurut Catherine Panjaitan, sebagai remaja, ia sangat ingin keluar rumah. Karena itu, ia ngotot pergi. Dengan mengenakan seragam putih, sepatu pulih, rambut dikepang dua ia pun  berangkat. Di Stadion Senayan, pidato dimulai pukul 17.00, tapi Catherine tidak mendengarkan, karena asyik bergurau dengan teman.  Acara selesai sekitar pukul 20.00, tapi baru sekitar pukul 22.00, Catherine sampai ke rumah karena harus mengantar teman. Catherine Panjaitan mengaku agak takut masuk rumah, karena diberitahu sejak tadi dia ditunggu Papinya. Tanpa makan malam, ia jinjing sepatu ke atas. Rumahnya saat itu  bertingkat. Lalu masuk ke kamarnya agar Papinya tidak tahu dia datang."Saya lihat lampu kamarnya masih menyala," kata Catherine Panjaitan. Setelah berganti pakaian, Catherine Panjaitan tidur. Kira-kira pukul 04.30, 1 Oktober 1965, dia terbangun karena mendengar teriakan-teriakan disertai tembakan.  Catherine mengintip dari Jendela. Ia lihat banyak orang yang berseragam tentara, beberapa di antaranya melompat pagar, sambil membawa senapan. Catherine Panjaitan berlari keluar kamar.  “Ternyata, Papi sudah bangun. Ia menggendong adik, anak seorang saudara yang baru datang dari Sumatera. Kami semua berkumpul di ruang tengah lantai atas. Papi mondar-mandir, dari balkon ke kamarnya. Ia mencoba mengotak-atik senjatanya, semacam senapan pendek," kata Catherine Panjaitan.  Catherine  bertanya pada Papinya. "Pa, ada apa?” Tapi ia tak menjawab. Tembakan terus terdengar, sekarang di lantai bawah. Barang-barang hancur, televisi, koleksi kristal Ibunya, bahkan meja pun terbalik. "Tiarap,” Papi memberi komando.  Lalu Catherine disuruh menelpon Samosir, salah seorang asisten Jenderal S Parman. Cepat Catherine Panjaitan hubungi dia minta bantuan, karena sedang dikepung dan banyak tentara. "Setelah itu saya telepon pacar sahabat saya, namanya Bambang. Saya minta bantuan. Tapi belum selesai pembicaraan, kabel telepon diputus," kata Catherine Panjaitan. Di lantai bawah, tembakan masih terdengar, tapi tak ada yang nyasar ke atas. Lalu terdengar teriakan Albert sepupunya."Tulang jangan menyerah. Jangan menyerah Tulaang!” Albert dan Victor saudara Papinya memang tidur di lantai bawah. Dua pembantunya terdengar ditanyai ”Mana ndoro-mu?” Catherine Panjaitan mendengar pertanyaan itu jelas sekali, diulang-ulang. Baru setelah diancam akan dibunuh, mereka memberitahu. Lalu teriakan beralih ke atas. "Menyerah saja, menyerah”.  Secara spontan, Catherine bertanya "Siapa yang suruh?” Dari bawah dijawab "Paduka yang mulia”. Namun, para tentara yang di bawah tidak berani naik ke atas.  Kemudian Brigjen DI Panjaitan Papinya masuk kamar, berganti pakaian. Ibunya Catherine atau istri DI Panjaitan menangis. Tanpa banyak kata, Papinya turun, dengan pakaian dinas lengkap. Kaus kaki hitam telah dipakai, tapi sepatunya dijinjing.  "Ibu, saya, Salomo, adik saya terpaku melihat kepergiannya. Ketika Papi menuruni tangga, sampai di belokan, saya mengejarnya, ingin mengikutinya. Namun, Papi cepat berkata, "Jangan turun. Semua tinggal di atas.”  Catherine Panjaitan  terdiam. Ia dan Salomo kemudian berlari ke balkon, ingin mengikuti perkembangan. Catherine Panjaitan melihat, dan mendengar, salah seorang dari lima orang yang berseragam hijau dan bertopi baja berseru "Siap. Beri hormat”.  Tapi Papi cuma mengambil topinya, lalu mengapitnya di ketiak kiri. Tentara itu kemudian memukul Papinya dengan gagang senapan. Brigjen DI Panjaitan tersungkur. Dan cepat sekali, dor, dor, dua kali tembakan meletus. Darah menyembur dari kepala Brigjen DI Panjaitan.  "Saya dan Salomo tertegun. Hampir bersamaan, saya dan Salomo memburu ke luar. Ke bawah. Di pintu kamu berebutan keluar. Sampai di luar, Papinya sudah tidak ada. Tinggal genangan darah yang bercampur cairan putih, mungkin otak Papi."