Перейти к содержимому

Diponegoro Tertembak di Gawok: Pertempuran yang Mengubah Perang Jawa 1826

Jejak Sejarah

0:00 / 0:00

Diponegoro Tertembak di Gawok: Pertempuran yang Mengubah Perang Jawa 1826

5 123 просмотра · 2 дн. назад
Jejak Sejarah
383 подписчика
5 123 просмотра · 2 дн. назад
15 Oktober 1826, sebelum fajar. Kamu adalah Wiryo, kurir berkuda pasukan Pangeran Diponegoro. Dari balik kabut di sawah Gawok, sekitar 13 km di barat daya Surakarta, barisan biru Belanda muncul. Ikuti tahun kemenangan Diponegoro: Plered, sergapan Sentot di Lengkong, Kejiwan di lereng Merapi, jatuhnya Delanggu, tiga minggu keraguan di depan Surakarta, sampai pagi ketika kolone Cochius dan Le Bron menjepit perkemahan di Gawok, dan sang Pangeran tertembak dua kali. Tiga misteri yang kita jawab: 1. Mengapa sekitar 4.000 pejuang kalah dari sekitar 1.500 prajurit dalam satu pagi? 2. Benarkah Pangeran Diponegoro kebal peluru? 3. Mengapa serangan ke Surakarta tertunda tiga minggu, dan siapa yang disalahkan? Ini episode 2 seri Perang Jawa. Episode sebelumnya: Selarong 1825. BAB 00:00 Diponegoro tertembak & tiga misteri 02:07 Kilas balik: Plered, Juni 1826 02:51 Sergapan Lengkong dan Kejiwan 03:47 Belanda mengangkat kembali Sultan HB II 04:00 Delanggu jatuh, Kyai Mojo bergabung 05:03 Tiga minggu ragu 05:49 Berkemah di Gawok 06:03 De Kock, Cochius, dan Le Bron 07:15 Subuh di Baki 08:00 Medan sawah dan taktik barisan 08:35 Le Bron dan serbuan prajurit Ambon 09:33 Legiun Mangkunegaran 10:02 Sang Pangeran tertembak 10:43 Jawaban misteri 1 11:03 Mundur dengan tandu 11:43 Jawaban misteri 2 12:08 Kyai Mojo disalahkan, jawaban misteri 3 13:05 Kembali ke perang gerilya 14:00 Surakarta dan Gawok hari ini 14:24 Mitos atau fakta 15:24 Sumber dan penutup Wiryo adalah tokoh rekaan. Pangeran Diponegoro, Sentot Prawirodirdjo, Kyai Mojo, Jenderal H.M. de Kock, Kolonel F.D. Cochius, dan Letnan Kolonel Le Bron de Vexela adalah tokoh sejarah. Jam pukul 04.00 dan sekitar 07.30 mengikuti laporan perang Belanda; detail lain pada hari Wiryo adalah rekonstruksi cerita. Kekerasan tidak digambarkan secara langsung. Kalau kamu ada di Gawok pagi itu, apakah kamu tetap berjuang, atau pulang ke desa? Tulis di kolom komentar. Subscribe untuk hari-hari lain di masa lalu. Sampai jumpa di episode berikutnya Perang Jawa. #PerangDiponegoro #PerangJawa #SejarahIndonesia #Diponegoro #Sentot #KyaiMojo #Surakarta #Sukoharjo #JejakSejarah SUMBER Peter Carey, The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785–1855 (2007) P.J.F. Louw & E.S. de Klerck, De Java-oorlog van 1825–30 (laporan perang Belanda) J. Hageman Jcz., Geschiedenis van den oorlog op Java van 1825 tot 1830 (1856) Babad Diponegoro (naskah, Memory of the World UNESCO 2013) Wikipedia: Java War KREDIT GAMBAR Peta Plered, G.P. Rouffaer: domain publik (Wikimedia Commons) Sentot, gambar F.V.H.A. de Stuers, KITLV 36D123: CC BY 4.0 (Wikimedia Commons) H.M. de Kock, lukisan Cornelis Kruseman: domain publik (Wikimedia Commons) F.D. Cochius, P.H.K. van Schendel: domain publik (Wikimedia Commons) Stamboek officieren F.D. Cochius, Kementerian Pertahanan Belanda: CC0 (Wikimedia Commons) Serbuan kolone Le Bron di dekat Gawok, J.P. de Veer (±1900): domain publik (Wikimedia Commons) Legiun Mangkunegaran, Tropenmuseum: CC BY-SA 3.0 (Wikimedia Commons) Babad Dipanagara (ilustrasi): domain publik (Wikimedia Commons) Kyai Mojo, gambar F.V.H.A. de Stuers 1828: domain publik (Wikimedia Commons) Masjid Al-Falah Kyai Modjo, Tondano: Si Gam, CC BY-SA 4.0 (Wikimedia Commons) Pendapa Pura Mangkunegaran: Crisco 1492, CC BY-SA 3.0 (Wikimedia Commons) Keraton Surakarta: Jo Chryst, CC BY-SA 4.0 (Wikimedia Commons) Pendapa Sasana Sewaka: Bimo K.A., CC BY-SA 4.0 (Wikimedia Commons) Areal Persawahan Gawok: CC0 (Wikimedia Commons) Makam Sentot, Bengkulu: Kemendikbud RI, domain publik (Wikimedia Commons) Babad Dipa Nagara, D Or. 13, hal. 142: CC BY 4.0 (Wikimedia Commons) Peta: garis pantai Natural Earth (domain publik); relief digambar ulang, rute perkiraan. Gambar ilustrasi dibuat dengan AI. Narasi suara AI.