Tujuh tahun yang dikhianati senyap
ARMAN ART SMANDALU SMART
0:00 / 0:00
Tujuh tahun yang dikhianati senyap
79 просмотров · 5 дн. назад
ARMAN ART SMANDALU SMART
214 подписчиков
79 просмотров · 5 дн. назад
Tujuh tahun kita menenun senja,
Merajut esok dari benang percaya.
Kukira waktu sedang membangun istana,
Rupanya hanya aku yang menjaga.
Kita pernah menitipkan mimpi
Pada langit yang sama setiap hari,
Kau adalah nama di ujung doaku,
Tempat segala resah pulang berteduh.
Kupelihara janji di dalam dada,
Meski musim berkali-kali berganti rupa,
Tak pernah kusangka di balik diammu,
Ada takdir lain yang kau pilih tanpa aku.
Lalu seminggu kau menjelma sunyi,
Tak ada kabar, tak ada pamit pergi,
Kucari namamu di antara kecemasan,
Tak tahu perpisahan sedang merangkai kenyataan.
Ternyata kau telah bersanding dengannya,
Saat aku masih menjaga setia,
Tujuh tahun luruh dalam satu berita,
Dan separuh jiwaku kehilangan bahasa.
Oh, mengapa harus sekejam ini?
Kau pergi tanpa mengubur janji,
Aku yang membangun rumah di hatimu,
Kini berteduh di reruntuhan masa lalu.
Malam menjadi ruang pengadilan,
Kenangan bersaksi tanpa pembelaan,
Setiap sudut menyimpan wajahmu,
Setiap doa bertanya, apa kurangku?
Kucoba menyusun serpihan percaya,
Namun luka tak mengenal bentuk semula,
Ada cinta yang tak sempat berpamitan,
Ada harapan yang mati tanpa pemakaman.
Pernah kupikir hidup kehilangan arah,
Ketika masa depan berubah menjadi musibah,
Sebab yang paling menyakitkan ternyata,
Bukan kehilanganmu, melainkan kehilangan makna.
Namun di dasar tangis yang panjang,
Ada suara lembut perlahan datang,
Bukan untuk menghapus segala luka,
Melainkan mengajariku menerima.
Ternyata kau telah bersanding dengannya,
Sementara aku memakamkan cita-cita,
Tujuh tahun bukan sekadar angka,
Ia adalah hidup yang pernah kupercaya.
Oh, biarlah air mata menjadi saksi,
Bahwa aku pernah mencintai sepenuh hati,
Jika bahagiamu bukan lagi bersamaku,
Akan kulepaskan meski berdarah batinku.
Kini kupahami bahasa kehilangan,
Tak semua yang dicinta ditakdirkan menetap,
Ada pertemuan yang menjadi pelajaran,
Ada perpisahan yang mendewasakan jiwa.
Aku tak ingin membenci masa lalu,
Sebab pernah ada bahagia di sisimu,
Namun cinta bukan rantai yang mengikat,
Bukan pula hak untuk terus dimiliki.
Maka pergilah, bersama pilihanmu,
Tak akan kupaksa takdir kembali menyatu,
Kubiarkan luka perlahan menjadi doa,
Semoga hatiku sembuh tanpa kehilangan cahaya.
Tujuh tahun akan tetap menjadi sejarah,
Bukan penjara yang mengurung langkah,
Pernah kau patahkan seluruh mimpiku,
Namun takkan kubiarkan kau merampas masa depanku.
Kini kulepas namamu dari air mata,
Kulepas bayangmu dari ruang jiwa,
Bukan karena cinta ini tak tersisa,
Melainkan aku pun berhak menemukan bahagia.
Jika dahulu kau adalah tujuan,
Kini diriku menjadi perjalanan,
Dan bila takdir tak mengizinkan kita bersama,
Akan kupeluk hidup dengan segenap jiwa.
Tujuh tahun telah berlalu dalam kenangan,
Seminggu sunyi meruntuhkan impian.
Namun hari ini, di antara puing yang tersisa,
Kudapati diriku... masih berharga.
Aku pernah kehilanganmu,
Tetapi akhirnya...
Aku menemukan diriku.