Перейти к содержимому

Andai Saja RPKAD Tak Ada di Cijantung, Mungkin G30S PKI Akan Menang

Intel Melayu

0:00 / 0:00

Andai Saja RPKAD Tak Ada di Cijantung, Mungkin G30S PKI Akan Menang

454 609 просмотров · 3 года назад
Intel Melayu
314 тыс. подписчиков
454 609 просмотров · 3 года назад
Andai Saja RPKAD Tak Ada di Cijantung, Mungkin G30S PKI Akan Menang Andai saja RPKAD tak ada di Cijantung mungkin G30S PKI akan merayakan kemenangannya. Kok bisa seperti itu? Ya, sejarah mencatat, Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), kesatuan pasukan khusus TNI Angkatan Darat yang sekarang bernama Kopassus menjadi tulang punggung dalam operasi penumpasan G30S PKI. Pasukan RPKAD yang diandalkan Pangkostrad Mayjen Soeharto saat itu merebut dua objek vital yakni RRI dan kantor telekomunikasi dari tangan komplotan Gerakan 30 September. RPKAD pula yang diandalkan untuk menguasai Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dan atas peran RPKAD pula, sumur maut Lubang Buaya yang digunakan Komplotan Gerakan 30 September menyembunyikan jenazah para jenderal yang diculik dapat ditemukan. Rupanya, sebelum peristiwa G30S PKI ada upaya dari pentolan Gerakan 30 September untuk menarik habis pasukan RPKAD agar tidak ada di Jakarta saat upaya kudeta itu meletus. Pentolan G30S PKI yang coba mengeluarkan RPKAD dari Cijantung itu adalah Brigjen  Soepardjo. Seperti apa ceritanya? Simak cerita yang akan diulas dalam video ini. Setelah dapat laporan dari dua Ajudan Jenderal Ahmad Yani yang datang pada pagi buta ke Cijantung tentang peristiwa penculikan Menteri Panglima Angkatan Darat itu, Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie lantas memerintahkan Komandan Batalyon 1 RPKAD Mayor CI Santosa menarik kembali pasukan RPKAD yang terlanjur berangkat ke Senayan untuk mengikuti gladi resik Peringatan Hari ABRI yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 5 Oktober 1965. Menurut Rum Aly dalam buku," Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966, Mitos dan Dilema: Mahasiswa dalam Proses Perubahan Politik 1959-1970," yang disusunnya, pasukan RPKAD yang berangkat ke Senayan itu meski bersenjata lengkap, namun tak dibekali peluru. Kolonel Sarwo Edhie memerintahkan Mayor Santosa segera menarik pasukannya kembali ke Cijantung. Menurut Rum Aly, saat itu, personil RPKAD yang berada di Cijantung terbatas, terutama karena sebagian berada di daerah perbatasan dengan Malaysia atau ditempatkan di daerah lainnya. Santosa segera meluncur ke Senayan dan tiba di sana tepat pukul 06.00. Mayor Santosa, mengumpulkan seluruh anggota Batalion I, memerintahkan mereka naik truk untuk segera berangkat kembali ke Cijantung. Seorang Laksamana Muda Angkatan Laut yang menjadi koordinator pasukan-pasukan yang dipersiapkan untuk acara di Senayan itu, muncul dan mempertanyakan ada apa dan hendak ke mana pasukan itu pagi-pagi begini, tapi Mayor Santosa menghindar dengan sopan lalu meninggalkan tempat itu dengan cepat. Di tengah perjalanan mereka berpapasan dengan sebuah truk perbekalan yang dikirim Sarwo Edhie, berisi amunisi. Mayor CI Santosa segera membagi-bagikan peluru kepada pasukannya, sehingga sejak saat itu, pasukan yang berkekuatan beberapa kompi tersebut sudah dalam keadaan siap tempur. Di Markas RPKAD Cijantung Batalion 1 ini berkumpul di lapangan, bergabung dengan kompi dari Batalion 3 yang berasal dari Jawa Tengah yang tiba beberapa waktu sebelumnya dan disiapkan untuk berangkat ke daerah perbatasan konfrontasi di Kalimantan Barat, namun terhambat keberangkatannya belasan jam karena masalah angkutan udara yang terkendala. Terdapat pula sejumlah personil yang terdiri dari instruktur dari Batujajar yang akan ikut dalam kegiatan Hari ABRI. Mayor CI Santosa memberikan briefing ringkas, bahwa tak ada satu pun anggota pasukan yang boleh bergerak tanpa perintah darinya, dan “saya akan menembak mereka yang melanggar perintah”. Kolonel Sarwo Edhie Wibowo yang tampil berbicara sesudah itu, membentangkan dengan singkat tentang adanya sejumlah jenderal Angkatan Darat yang diculik dinihari tersebut dan belum diketahui dengan jelas oleh siapa atas perintah siapa, dibawa ke mana dan bagaimana nasibnya saat itu. Sarwo juga memperingatkan agar waspada, karena saat itu belum bisa ditentukan dengan jelas siapa saja yang menjadi kawan dan siapa yang menjadi lawan. Menurut Rum Aly,Batalion I RPKAD praktis adalah sisa terakhir personil yang ada di Cijantung, sementara yang lain umumnya sudah berada di wilayah-wilayah perbatasan konfrontasi Malaysia. Sebenarnya, batalion ini bahkan hampir saja dikirim ke perbatasan Kalimantan atas permintaan Pangkopur II Kalimantan Brigjen Soepardjo. Pada bulan Agustus 1965, Panglima Komando Tempur II Brigjen Soepardjo mengirim suatu radiogram kepada Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie. Radiogram di akhir Agustus itu sebenarnya agak tak lazim menurut prosedur yang ada. Isinya pun cukup menimbulkan tanda tanya, setidaknya bagi Kolonel Sarwo Edhie. Apalagi secara pribadi Letnan Jenderal Ahmad Yani belum lama sebelumnya pernah berpesan supaya "Cijantung jangan sampai kosong."