Перейти к содержимому

Kenapa Mayoritas Perwira Siliwangi Anti PKI

Intel Melayu

0:00 / 0:00

Kenapa Mayoritas Perwira Siliwangi Anti PKI

10 511 просмотров · 12 дней назад
Intel Melayu
314 тыс. подписчиков
10 511 просмотров · 12 дней назад
Kenapa Para Jenderal Siliwangi Banyak yang Anti PKI? Kenapa para Jenderal Siliwangi banyak yang anti PKI? Pertanyaan tersebut menarik untuk diulas. Lihat saja Umar Wirahadikusumah, Kemal Idris, Achmad Wiranatakusumah, Ishak Djuarsa, Amir Machmud, HR Darsono, Ibrahim Adjie, Witono, Solihin GP, Sadikin, Nasuhi dan lainnya. Mereka adalah sederet para perwira Siliwangi yang kemudian menjadi perwira tinggi TNI yang kental sekali sikap anti PKI-nya. Atau Jenderal Abdul Haris Nasution, Panglima Siliwangi pertama yang tidak diragukan lagi sikap anti komunisnya. Pun, Kawilarang, Kolonel tempur flamboyan yang juga pernah jadi Panglima Siliwangi dikenal sangat anti PKI. Sikap anti PKI mereka terentang jauh ke sebuah peristiwa kelam yang meletus pada tahun 1948. Pada tahun itu, meletus pemberontakan PKI yang dimulai dari Madiun, Jawa Timur. Ketika itu, para perwira Siliwangi seperti Witono, Umar, Nasuhi, Wiranatakusumah, Kemal Idris dan lainnya tengah ada di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Mereka sedang hijrah ke sana, imbas dari perjanjian Renville yang ditanda tangani Amir Syarifuddin, Perdana Menteri ketika itu yang kemudian terlibat dalam pemberontakan PKI di Madiun. Pasukan Siliwangi yang tengah hijrah itu yang kemudian jadi andalan pemerintah untuk menggembuk dan melibas pemberontakan PKI. Umar, Witono, Nasuhi, Kemal Idris, Wiranatakusumah, HR Darsono, Ibrahim Adjie, Ishak Djuarsa, Amir Machmud, Solihin GP dan lainnya ketika itu masih perwira muda. Merekalah yang memimpin pasukan Siliwangi menumpas pemberontakan PKI. Mereka yang berhadapan langsung dengan pasukan-pasukan kiri yang mendukung pemberontakan PKI. Mereka pula yang terlibat dalam berbagai pertempuran sengit melawan pasukan merah, mulai pertempuran di kota, lereng gunung dan hutan. Mereka juga menyaksikan dengan mata kepala sendiri, kekejaman para pendukung PKI dalam menghabisi lawan-lawan politiknya dengan keji dan tidak berperikemanusiaan. Mereka menyaksikan langsung darah rakyat yang ditumpahkan  orang-orang PKI. Bukti kekejaman demi kekejaman orang-orang PKI yang bikin bulu kuduk merinding, mereka saksikan langsung. Melihatnya dengan mata kepala sendiri. Bukan dari kabar burung. Kemal Idris misalnya dalam buku biografinya Bertarung dalam Revolusi yang ditulis Ramadhan KH, mengaku sampai bergidik bulu kuduknya melihat langsung bukti kekejaman orang-orang PKI terhadap lawan-lawan politiknya. Mereka, yang dianggap musuh oleh orang-orang PKI dibantai seperti binatang. Kenangan berdarah itu terus membekas di ingatan Kemal, hingga ia jadi perwira tinggi. Karena itu Kemal sangat jengkel dengan sikap Bung Karno yang kemudian seperti menganakemaskan PKI. Padahal, tahun 1948, Bung Karno sendiri yang berseru kepada rakyat, pilih Bung Karno-Hatta atau Musso. Tapi kemudian pada tahun 60-an, Bung Karno yang justru dekat dengan PKI.