Ini Dia 10 Perwira Kodam Diponegoro yang Terlibat G30S PKI
Intel Melayu
0:00 / 0:00
Ini Dia 10 Perwira Kodam Diponegoro yang Terlibat G30S PKI
13 295 просмотров · 3 года назад
Intel Melayu
314 тыс. подписчиков
13 295 просмотров · 3 года назад
Ini Dia 10 Perwira Kodam Diponegoro yang Terlibat G30S PKI
Kisah 10 perwira Kodam Diponegoro yang terlibat langsung dalam petualangan G30S PKI. Seperti apa ceritanya? Simak kisah yang akan diulas dalam video ini.
Dikutip dari buku berjudul,"Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai, G30S PKI dan Peran Bung Karno," yang ditulis Soegiarso Soeroyo, dalam peristiwa pemberontakan G30S PKI yang meletus pada awal Oktober 1965, Kodam VII Diponegoro adalah Divisi yang paling parah akibat banyaknya anggota yang terlibat dalam petualangan G30S/PKI.
Menurut hasil observasi Kodam VII Diponegoro, kecuali satuan-satuan Yon Infanteri (Yon K, L, M, dan D) sedikitnya 30 persen anggota dalam slagorde Kodam VII Diponegoro terlibat atau ada indikasi terlibat Gerakan 30 September.
Menurut Soegiarso Soeroyo dalam buku yang ditulisnya faktor yang memperlicin terseretnya mereka ke dalam Gerakan 30 September adalah pertama, latihan-latihan sukarelawan-sukarelawati dilakukan tanpa melalui prosedur yang wajar, yaitu melalui Front Nasional atau Mada Hansip. Kedua, penunjukan kader-kader Nasakom dari Kodam VII Diponegoro yang memang sudah ditentukan atau dipilih. Ketiga, terlibatnya Assisten III, I dan VI Kodam VII Diponegoro yakni Kolonel Marjono, Kolonel Suhirman, serta Letkol Usman dan dugaan positif bahwa kebijaksanaan penempatan personil sudah diatur sedemikian rupa.
Oleh karena itu, tulis Soegiarso Soeroyo, ketika itu pasca G30S PKI gagal sulit untuk membersihkan tubuh Kodam VII Diponegoro dari pengaruh komplotan Gerakan 30 September.
Masih menurut Soegiarso Soeroyo dalam buku yang ditulisnya, sedikitnya ada 10 perwira yang mempunyai jabatan penting di Kodam Diponegoro yang yang terlibat langsung dalam petualangan PKI.
Kesepuluh perwira Kodam Diponegoro yang terlibat langsung dalam petualangan G30S PKI itu adalah pertama Kolonel Sahirman, Assisten I Kasdam VII Diponegoro. Kedua, Kolonel Marjono, Asisten III Kasdam Diponegoro. Ketiga, Letnan Kolonel Idris, Kepala Staf Resimen atau Korem 73.
Keempat, Letnan Kolonel Usman Sastrodibroto, Asisten VI Kasdam VII Diponegoro. Kelima, Mayor Suherman, Asisten V Kasdam VII Diponegoro. Keenam, Mayor Karsidi, Wakil Asisten II Kasdam VII Diponegoro.
Ketujuh, Mayor Kartawi, Kepala Seksi 2 Resimen atau Korem 72. Kedelapan Mayor Muljono, Kepala Seksi 6 Resimen atau Korem 72. Kesembilan, Mayor Subadi, Kepala Seksi 3 Resimen atau Korem 73. Kesepuluh, Kapten Bambang Supeno, Perwira Seksi I Resimen atau Korem 73.
Masih menurut Soegiarso Soeroyo dalam bukunya, pada tanggal 1 Oktober 1965 pukul 13.00 setelah mendengar siaran RRI Pusat yang mengumunikan Dekrit I Gerakan 30 September tentang terbentuknya Dewan Revolusi Indonesia, di Kodam VII Diponegoro, Semarang terjadi pergolakan.
Para perwira menengah memberontak dan mengumumkan terbentuknya Dewan Revolusi Jawa Tengah di bawah pimpinan Kolonel Sahirman. Pimpinan Kodam VII Diponegoro diambil alih dan menunjuk Letnan Kolonel Usman Sastrodibroto untuk memegang pimpinan.
Kemudian, Dewan Revolusi Solo diproklamasikan di bawah pimpinan Letnan Kolonel Iskandar, Assisten II Kodam VII Diponegoro. Walikota Surakarta Utomo Ramelan selaku dan atas nama Front Nasional Solo mendukung pembentukan Dewan Revolusi yang disiarkan melalui RRI Solo.
Kemudian berkumandanglah berganti-ganti dukungan-dukungan terhadap Dewan Revolusi dari Pimpinan PKI, Partindo, Baperki, Pemuda Rakyat setempat dengan pernyataan, mendukung tanpa reserve atas berdirinya Dewan Revolusi Daerah Solo.
Gerakan 30 September di Yogyakarta, menurut Soegiarso Soeroyo, bergerak di bawah pimpinan Mayor Muljono. Komandan Resimen 72 Kolonel J Katamso dan Kepala Staf Resimen Letnan Kolonel Soegiono diculik kemudian dibunuh di desa Kentungan. Begitu juga Kepala Penerangan Korem 72 Kapten Rachmat diculik tetapi beruntung lolos dari pembunuhan.
Sementara di Purwokerto, tulis Soegiarso Soeroyo, gerakan petualangan itu dipimpin oleh Mayor Trisnadi. Beruntung juga karena sebelum mereka sempat melakukan pengacauan atau pembunuhan, pemberontakan itu dapat dipadamkan.
"RRI Semarang, Solo dan Yogyakarta sempat mereka kuasai. Tetapi Panglima Kodam VII Brigjen Suryosumpeno yang berhasil meloloskan diri dari kepungan anak buahnya yang memberontak dan berhasil sampai ke Magelang," tulis Soegiarso Soeroyo dalam bukunya.