Перейти к содержимому

Kisah Prajurit Cakrabirawa Kelaparan Saat Melarikan Diri Setelah G30S PKI Gagal

Intel Melayu

0:00 / 0:00

Kisah Prajurit Cakrabirawa Kelaparan Saat Melarikan Diri Setelah G30S PKI Gagal

61 059 просмотров · 3 года назад
Intel Melayu
314 тыс. подписчиков
61 059 просмотров · 3 года назад
Kisah Prajurit Cakrabirawa Kelaparan Saat Melarikan Diri Setelah G30S PKI Gagal Kisah nelangsa prajurit Cakrabirawa setelah G30S PKI gagal. Mereka kelaparan saat melarikan diri. Dikutip dari artikel berjudul,"Cakrabirawa dalam Kekuatan Militer Era Kepemimpinan Soekarno 1962-1967," yang disusun Aldi Septian, dikisahkan, setelah Gerakan 30 September yang dipimpin Letkol Untung Syamsuri, Komandan Batalyon 1 Kawal Kehormatan Resimen Cakrabirawa gagal, beberapa pelaku gerakan dari Batalyon Kawal Kehormatan Cakrabirawa pimpinan Untung melarikan diri ke Jawa Tengah.  Letnan Satu Dul Arif yang panik setelah gagalnya Gerakan 30 September segera membawa pasukannya melarikan diri ke Jawa Tengah. Tujuan pasukan itu adalah kembali ke basis kesatuan asal mereka, yakni Batalyon Banteng Raiders di Srondol yang berada di  Selatan Kota Semarang. Namun, sampai di daerah Cirebon, karena lapar akhirnya mereka melapor pada Komandan Detasemen Polisi Militer di Cirebon, Mayor Aris Respati. Para prajurit Cakrabirawa yang terlibat dalam Gerakan 30 September ini datang untuk minta makan, karena kelaparan. Menurut Aldi Septian dalam artikel berjudul,"Cakrabirawa dalam Kekuatan Militer Era Kepemimpinan Soekarno 1962-1967," yang disusunnya, sejak dari Jakarta, pasukan Cakrabirawa itu tidak makan karena dapur umum yang dalam rencana gerakan dibebankan pada Mayor Suyono dari AURI tidak berfungsi sama sekali.  Ketika itu hampir semua prajurit yang terlibat G30S PKI kelaparan saat gerakan. Mungkin ini salah satu sebab kekalahan mereka. Kemudian pihak CPM Cirebon melaporkan keberadaan pelarian Cakrabirawa itu ke Markas Komando Cakrabirawa di Jakarta.  Selanjutnya diadakan penjemputan dari Resimen Cakrabirawa sendiri ke Cirebon. Para prajurit pelarian itu lalu ditampung di Asrama Cakrabirawa (Kala Hitam) di Jalan Tanah Abang, sebelum akhirnya dijebloskan ke Penjara Salemba.