Перейти к содержимому

Iman, Islam, Ihsan

TUNTUN@N

0:00 / 0:00

Iman, Islam, Ihsan

46 просмотров · Трансляция закончилась 4 недели назад
TUNTUN@N
1,81 тыс. подписчиков
46 просмотров · Трансляция закончилась 4 недели назад
Kelompok yang disebut mujassimah dalam sejarah pemikiran Islam adalah golongan yang memahami sifat-sifat Allah secara dzahir dengan menyamakan-Nya dengan makhluk. Mereka menetapkan bahwa Allah memiliki bentuk fisik, bertempat, dan memiliki anggota seperti tangan, wajah, atau kaki secara hakikat yang sama dengan manusia. Pandangan ini muncul karena mengambil ayat-ayat mutasyabihat tentang sifat Allah lalu dipahami secara harfiah tanpa merujuk kaidah bahasa Arab dan tanpa menyerahkan maknanya kepada Allah. Contohnya ayat tentang tangan Allah atau istiwa di atas Arsy dipahami sebagai organ dan posisi secara jasmani. Para ulama Ahlussunnah menolak pemahaman ini. Mereka menegaskan bahwa Allah tidak serupa dengan sesuatu apapun. Allah berfirman: "Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia". Maka sifat-sifat yang Allah sebutkan untuk diri-Nya wajib diimani sebagaimana datangnya, tanpa takyif, tanpa tamtsil, tanpa tahrif, dan tanpa ta’thil. Imam Malik ketika ditanya tentang istiwa menjawab bahwa kaifiyatnya tidak diketahui, maknanya diketahui, dan bertanya tentang itu adalah bid’ah. Ibnu Katsir dan ulama lain juga menjelaskan bahwa wajib menetapkan apa yang Allah tetapkan, namun menafikan keserupaan dengan makhluk. Sikap pertengahan adalah mengimani semua sifat dalam Al-Qur’an dan Sunnah sesuai keagungan Allah. Tidak membayangkan bentuk, tidak menyerupakan, dan tidak menolak. Hati menjadi tenang karena bertauhid murni, tidak terjatuh pada antropomorfisme maupun penolakan sifat.