Перейти к содержимому

Pasukan RPKAD Kejar Kolonel Sahirman Sampai Tewas

Intel Melayu

0:00 / 0:00

Pasukan RPKAD Kejar Kolonel Sahirman Sampai Tewas

218 577 просмотров · 3 года назад
Intel Melayu
314 тыс. подписчиков
218 577 просмотров · 3 года назад
Pasukan RPKAD Kejar Kolonel Sahirman Sampai Tewas Ini kesaksian Hendro Subroto, wartawan TVRI saat ikut Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) memburu Kolonel Sahirman. Kolonel Sahirman, adalah perwira penting di Kodam Diponegoro ketika itu yang memimpin Dewan Revolusi di Jawa Tengah begitu Gerakan 30 September meletus di Jakarta. Tapi setelah Gerakan 30 September gagal, lalu ada aksi balasan berupa operasi penumpasan yang dilancarkan Angkatan Darat, Kolonel Sahirman bersama pengikutnya melarikan diri dari Kota Semarang. Terlebih setelah Markas Kodam Diponegoro dapat direbut kembali oleh pasukan yang masih setia kepada Pangdam Diponegoro ketika itu, Brigjen  Suryosumpeno. Nah, pada pertengahan Oktober 1965, dengan dipimpin langsung oleh komandannya, Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, pasukan RPKAD dikirimkan ke Jawa Tengah untuk membantu Kodam Diponegoro membersihkan sisa-sisa pendukung G30S PKI. Hendro Subroto, wartawan TVRI ketika itu ikut serta meliput pergerakan pasukan Baret Merah dalam operasi penumpasan G30S PKI di Jateng. Kesaksian Hendro Subroto saat meliput pergerakan pasukan RPKAD di Jateng kemudian dituangkan dalam buku,"Dewan Revolusi PKI, Menguak Kegagalannya Mengkomuniskan Indonesia,"yang ditulisnya. Menurut Hendro dalam buku yang disusunnya, perebutan kekuasaan oleh G30S/PKI di Jawa Tengah melibatkan beberapa orang asisten Kodam VII Diponegoro dan para Kepala Staf Korem dan kepala seksi Korem. Tapi setelah gerakan di Jateng gagal, mereka melarikan diri ke daerah pengunduran G30S/PKI di daerah Merapi Merbabu Komplek. Menurut Hendro Subroto, para perwira Kodam Diponegoro pendukung G30S PKI yang melarikan diri itu diantaranya adalah eks Kolonel Sahirman, Asisten I/Intelijen, eks Kolonel Marjono Asisten III Bidang Personil, eks Letnan Kolonel Usman Sastrodibroto Asisten VI Bidang Sospol, eks Mayor Suherman Asisten 5 Bidang Teritorial, eks Mayor Karsidi Wakil Asisten Operasi, eks Mayor Subadi Kasi 3/Personil Korem 073 Salatiga, dan eks Kapten B Supono dari Korem 073 Salatiga. "Walaupun demikian terdapat pula warga Kodam-VII/Diponegoro dan anggota AURI yang terlibat G30S/PKI, mundur ke daerah Merapi Merbabu Komplek," tulis Hendro Subroto dalam bukunya. Eks Mayor Kartawi Kasi 2/Operasi Korem 072/ Pamungkas Yogyakarta, kata Hendro, sebelumnya telah tertangkap di Magelang. Kemudian dalam upaya pengejaran terhadap eks Kolonel Sahirman dan komplotannya, pada tanggal 1 Desember dibentuk Operasi Merapi di bawah pimpinan Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, sebagai Komandan, Seksi 1/Intelijen dijabat oleh Mayor Taher, Pasi 1/Kodam-VII/Diponegoro yang diperbantukan kepada RPKAD dan Seksi2/ Operasi di tangan Mayor Sutjipto. Sementara pelaksana operasi adalah Mayor CI Santosa, dibantu oleh Kapten Daryono, Kasi 1/RPKAD yang merangkap jabatan sebagai Wadanyon 1 RPKAD. Adapun pasukan RPKAD yang dikerahkan dalam operasi pengejaran terhadap eks Kolonel Sahirman dan komplotannya ialah Kompi Oerip, Kompi Kayat, Kompi Tedjo, Kompi Sembring, dengan dibantu dua Pleton Kompi Panser yang diperbantukan pada Lettu Kayat. Selain itu Operasi Merapi juga, kata Hendro Subroto, diperkuat dengan tiga helikopter Mil M-4 buatan Sovyet yang berasal dari Penerbangan Angkatan Darat (Penerbad) di bawah pimpinan Letnan Kolonel Widodo yang menggunakan Ksatrian Slamet Riyadi, Kandang Menjangan, Kartosuro sebagai home base. Hendro Subroto masih ingat, sebuah pertemuan saat Mayor CI Santosa, yang merupakan Danyon 1 RPKAD ditanya oleh Kolonel Sarwo Edhie tentang berapa lama eks Kolonel Sahirman dan kawan-kawan dapat ditangkap, Mayor RPKAD itu menjawab dengan tegas. "Paling lama dua minggu.” Menurut Hendro, setelah pertemuan, dia sempat berbincang dengan Mayor CI Santosa dan bertanya, mengapa Komandan Batalyon 1 RPKAD itu yakin benar dapat memastikan untuk menangkap eks Kolonel Sahirman dan komplotannya paling lama dua minggu dapat diatasi. Ketika ditanya itu, Mayor CI Santosa malah ganti bertanya, “Berapa lama kemampuan seseorang menggendong ransel makanan di punggung? Seminggu? Dua minggu ?” Hendro diam saja. Sampai Mayor CI Santosa melanjutkan omongannya. Kata Mayor Santosa, daerah lereng timur Merapi Merbabu merupakan daerah gersang. Ia sudah menganalisa jika Eks Kolonel Sahirman dan komplotannya tidak dapat hidup tanpa bantuan penduduk setempat. Sedangkan penduduk sudah mulai berpihak kepada pemerintah.