Перейти к содержимому

Mengapa Kita Masih Ingin Menjadi yang Terbesar Ketika Hidup Mengajarkan Kita untuk Rendah Hati?

MAKNA TERSEMBUNYI ALKITAB

0:00 / 0:00

Mengapa Kita Masih Ingin Menjadi yang Terbesar Ketika Hidup Mengajarkan Kita untuk Rendah Hati?

75 просмотров · 4 дня назад
MAKNA TERSEMBUNYI ALKITAB
138 подписчиков
75 просмотров · 4 дня назад
Mengapa Kita Masih Ingin Menjadi yang Terbesar Ketika Hidup Mengajarkan Kita untuk Rendah Hati? Dalam Injil Lukas 9:46–48, para murid bertengkar tentang siapa yang terbesar. Yesus justru menghadirkan seorang anak dan menunjukkan bahwa kebesaran tidak selalu berarti menjadi yang paling utama atau paling diakui. Bacaan Ayub membawa kita lebih dalam. Setelah kehilangan harta, anak-anak, dan keamanan hidupnya, Ayub tetap berkata, “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan.” Kata Ibrani barukh berarti “terpujilah” atau “diberkatilah”. Melalui meizōn, barukh, dan ungkapan In omnibus glorificetur Deus—“Dalam segala sesuatu, semoga Allah dimuliakan”—kita diajak melihat kembali arti kebesaran. Setelah lebih dari 30 tahun mengajar, kita belajar bahwa jabatan, prestasi, pengetahuan, dan penghargaan dapat berubah. Mungkin menjadi besar di mata Tuhan justru dimulai ketika kita tidak lagi sibuk membuktikan bahwa kita besar. #MaknaTersembunyiAlkitab #Lukas9 #Ayub1 #Meizon #Meizōn #Barukh #InOmnibusGlorificeturDeus #SantoBenediktus #RuleOfStBenedict #RendahHati #KerendahanHati #Kebesaran #Iman #KepercayaanKepadaTuhan #KehendakTuhan #RefleksiAlkitab #RenunganHarian #SabdaDanKeterhubunganMakna #Alkitab #Injil #YesusKristus #GerejaKatolik #Katolik #Senin28September2026