Перейти к содержимому

1 Raja-raja 12:1-24, Keangkuhan Pangkal Perpecahan | eSH 25 Okt '26

Sahabat Santapan Harian

0:00 / 0:00

1 Raja-raja 12:1-24, Keangkuhan Pangkal Perpecahan | eSH 25 Okt '26

74 просмотра · 9 дн. назад
Sahabat Santapan Harian
211 подписчиков
74 просмотра · 9 дн. назад
◾Artikel Renungan : https://sabda.org/publikasi/e-sh/2026... 📞 0811 9910 377 ◾Mari memberkati para hamba Tuhan dan narapidana di banyak daerah melalui edisi Santapan Harian yang kami kirim secara rutin +/- 10.000 eks. ◾Kirim dukungan Anda ke: BCA 106.30066.22 Yay Pancar Pijar Alkitab Minggu, 25 Oktober 2026 (Minggu ke-22 sesudah Pentakosta) ◾1 Raja-raja 12:1-24 ◾Keangkuhan Pangkal Perpecahan Beberapa krisis muncul dari tindakan yang berlatar keangkuhan, dari telinga yang mendengar banyak suara, tetapi menolak untuk bertindak secara bijak. Kisah Rehabeam mengingatkan kita bahwa perpecahan kadang berawal dari keangkuhan. Momen pelantikan Rehabeam menjadi raja dimanfaatkan rakyat untuk meminta keringanan pajak (1-5). Momen membahagiakan sepatutnya diisi dengan perbuatan murah hati. Di luar dugaan, Rehabeam menolak nasihat yang mencerminkan belas kasihan dan sikap melayani (6-8). Ia malah mendengarkan nasihat yang sebaliknya, yang mendorongnya untuk menunjukkan kekejaman dan sikap menindas (9-14). Keputusan ini segera memicu terbelahnya kerajaan yang diwariskan Salomo. Menariknya, krisis besar ini rupanya telah ditetapkan TUHAN (15-24). Perikop ini menyingkapkan satu kesalahan mendasar dalam kepemimpinan rohani, yaitu keangkuhan. Para tua-tua istana memahami bahwa otoritas yang kokoh dibangun melalui pelayanan, tetapi para pejabat muda memandang kekuasaan sebagai alat pemaksaan. Masalah utama Rehabeam bukanlah usia muda atau pengalaman yang minim, melainkan sikap hati. Ia tidak bertanya: "Tindakan apa yang benar di hadapan TUHAN?" melainkan "Keputusan mana yang akan menjaga wibawaku?" Ketika keangkuhan menjadi lebih penting daripada tindakan adil, maka kehancuran nama baik dan perpecahan bangsa tinggal menunggu waktu. Meski Alkitab mengatakan bahwa perpecahan itu "memang dari TUHAN" (15), itu hanya menegaskan bahwa kegagalan manusia tidak pernah menggagalkan rencana Allah. Kedaulatan Allah bukanlah alasan untuk bersikap ceroboh. Kita perlu mengaku kepada Tuhan bahwa kadang kita mencari nasihat untuk membenarkan diri sendiri, bukan untuk menunjukkan kasih dan kebenaran. Tanpa sadar, keangkuhan mendorong kita menolak hikmat-Nya. Berdoalah agar kita rela merendahkan diri dan diajar, sehingga keputusan kita tidak menimbulkan luka bagi sesama dan mengakibatkan perpecahan. [PHM]