Перейти к содержимому

Gerak Cepat Jenderal Nasution Balas Aksi G30S PKI

Intel Melayu

0:00 / 0:00

Gerak Cepat Jenderal Nasution Balas Aksi G30S PKI

182 958 просмотров · 4 года назад
Intel Melayu
314 тыс. подписчиков
182 958 просмотров · 4 года назад
Gerak Cepat Jenderal Nasution Balas Aksi G30S PKI Setelah selamat dari penculikan, Jenderal Abdul Haris Nasution, Menko Hankam merangkap Kepala Staf Angkatan Bersenjata ketika itu, dibawa dari rumahnya ke tempat yang aman. Nasution di bawa oleh Letkol CPM Hidayat Wirasondjaja dan Mayor Sumargono, Ajudannya serta iparnya ke sebuah rumah yang tak jauh dari kantor Kepala Staf Angkatan Bersenjata. Dalam buku,"Peristiwa 1 Oktober 1965, Kesaksian Jenderal Besar Abdul Haris Nasution," Jenderal Nasution bercerita, di tempat persembunyian yang baru, yang pada waktu itu untuk kepentingan keamanan harus selalu berpindah-pindah, dia hanya diikuti oleh dua orang perwira. Dua perwira itu adalah Letkol CPM Hidayat Wirasondjaja dan Mayor Sumargono, Ajudannya. Setelah mendengar siaran radio RRI tentang pengumuman Letkol Untung, Nasution memerintahkan Letkol CPM Hidayat Wirasondjaja untuk melihat atau mencari beberapa keterangan tentang keadaan yang sebenarnya. Tetapi tidak berhasil mendapatkan keterangan yang jelas tentang situasi. Letkol Hidayat, menurut Nasution, hanya melaporkan bahwa ia telah ketemu dengan Panglima Kostrad Mayjen Suharto dan Pangdam V Jaya Brigjen Umar Wirahadikusuma dan telah dilaporkan bahwa dirinya dalam keadaan selamat. Siaran Letkol Untung lalu adanya gerakan Cakrabirawa yang mau menculiknya, kemudian oleh Nasution dianalisa. Arah penyelidikan terarah ke Istana, PKI dan Badan Pusat Intelijen sebagai sumber info yang utama. Pada lebih kurang pukul 09.00, Nasution memerintahkan Letkol CPM Hidayat Wirasondjaja untuk menghadap Panglima Kostrad dengan membawa pesannya. Ada pun pesan yang dibawa Letkol Hidayat untuk Pangkostrad, pertama supaya Pangkostrad melokalisir pasukan lawan. Kedua, menutup kota. Ketiga, minta bantuan pasukan dari Kodam VI Siliwangi. Keempat, menggunakan RRI Bandung untuk membantah adanya Dewan Jenderal. Kelima, memperoleh kepastian bagaimana Presiden. Keenam, segera menghubungi Men/Pangal, Men/Pangak dan Panglima KKO Mayor Jenderal KKO Hartono. Setelah beberapa saat Letkol CPM Hidayat Wirasondjaja, kata Nasution datang dan melaporkan telah menyelesaikan perintah-perintah yang telah dia berikan tersebut. Letkol Hidayat juga melaporkan bahwa keadaan situasi yang sebenarnya belum jelas dan tentang di mana Presiden berada juga belum diketahui. Dan bahwa Panglima Kostrad serta Pangdam ternyata telah bertindak segaris dengan keinginan dirinya tersebut. "Kemudian saya perintahkan lagi Letkol CPM Hidayat Wirasondjaja pergi ke Kostrad yang jarak dari rumah persembunyian saya cukup dekat dengan sepeda motor. Sesudah kurang lebih pukul satu ia kembali dengan melaporkan beberapa hal," kata Nasution. Pertama, pasukan yang ada di Lapangan Merdeka sedang dihubungi oleh Kostrad dan sudah kontak. Kedua, utusan untuk menemui Men/Pangau tidak berhasil karena yang tersebut belakangan sudah tak berada di rumahnya. Ketiga, Men/Pangal masih di Halim atas panggilan Presiden dan nasibnya dikhawatirkan. Keempat, situasi Halim mencurigakan, apalagi setelah ada order Men/ Pangau. Kelima, Presiden sudah diketahui dengan pasti berada di Lapangan Halim, karena Presiden memanggil Brigjen Umar Wirahadikusuma Pangdam V Jaya untuk menghadap di Halim, tetapi sementara tak dapat dipenuhi panggilan tersebut berhubung disangsikan, apakah Presiden di situ bebas atau dalam tahanan atau bagaimana. Dengan laporan ini, dan setelah memikirkan pengumuman-pengumuman Letkol Untung tentang personalia Dewan Revolusi, dan lain-lain tindakan, Nasution berpendapat, perlu selekasnya diambil tindakan tegas yang menyeluruh, dengan terjamin kerjasama AD dengan Angkatan-angkatan lain. "Maka saya buat instruksi dengan tulisan sendiri," kata Nasution. Instruksi itu, ditujukan kepada satu Pejabat Men/Pangad Mayjen Suharto, dua Pejabat Men/Pangal, dan Men/Pangak. Ada pun isi instruksi, pertama telah jelas usaha penangkapan dan penembakan atas pimpinan AD dan Menko/Kepala Staf Angkatan Bersenjata. Kedua, telah jelas tidak bebas lagi Pangti di Halim atau lain tempat. Ketiga, mengingat kegentingan militer ke dalam dan ke luar. Keempat, sebagai Wapangsar Koti dengan ini Nasution instruksikan kepada para Panglima Angkatan. Isi instruksi sebagai berikut. Dengan semua kekuatan militer ABRI yang ada melakukan operasi untuk, pertama membebaskan Pangti kembali. Kedua, menertibkan kembali disiplin militer atau Saptamarga. Ketiga, Mayjen Suharto selaku Ketua memimpin segala operasi. Keempat, selekasnya diusahakan pula hubungan yang sama dengan Men/Pangau. Kelima, menjelaskan fakta yang sebenarnya dengan segala media kepada rakyat dan anak buah. Instruksi itu diakhir dengan kalimat supaya dikerjakan sesuai Saptamarga. Menurut Nasution, walaupun formil sudah dihapuskan jabatan Pangsar atau Wapangsar Koti, dengan sadar dia pakai untuk bisa memberi instruksi operatif mengingat keadaan genting dan darurat yang memerlukan tindakan cepat.