Перейти к содержимому

PEDOMAN KHOTBAH IBAS CAKAP KARO IIWari Minggu Si Semal XXIV Thn A 13 September 2026

DEVISI Evangelisasi KAM

0:00 / 0:00

PEDOMAN KHOTBAH IBAS CAKAP KARO IIWari Minggu Si Semal XXIV Thn A 13 September 2026

551 просмотр · 13 дней назад
DEVISI Evangelisasi KAM
1,47 тыс. подписчиков
551 просмотр · 13 дней назад
#KhotbahKaro #Karo #Katolik #evangelisasi #Kapusin #SSCC #StDamianLauBaleng #ParokiStaMariaRatuRosariTanjungSelamatMedan #SFDMaryHomeBerastagi #SFDMariaRatuDamaiKabanjahe #KomevKAM #Conventual #ParokiStYosepDelitua #ParokiStFransiskusAsisiTigaBinaga #KuasiParokiStPaulusJuhar #ParokiSantaPerawanMariaKabanjahe #ParokiSangPenebusBandarBaru #STPStBonaventuraDelituaKAM #@maiasginting6649 #RPAdrianusSembiringOFMCap #@belajarmasmurliturgigereja6922 #@psalmenhatopanmasmurpengaloi Mengampuni Kitab Putera Sirakh mengingatkan kita akan bahaya dendam, “siapa yang membalas dendam akan dibalas oleh Tuhan. Bagaimana orang dapat memohon kesembuhan kepada Tuhan jika ia memendam amarah kepada sesama manusia?” Simaklah kisah ini. Suami yang sedang sekarat berpesan kepada istrinya: “Istriku, setelah aku mati, kau menikahlah dengan si Jabrix! Istri: “Paak! Mengapa kau ingin aku menikah dengan si jabrix? Bukankah dia musuh besarmu?” Suami: “Justru karena dia musuhku, aku ingin dia menikah denganmu, agar dia turut merasakan derita hebat hidup bersamamu.” Dendam adalah sumber semua penyakit yang sangat sulit disembuhkan, terutama kanker. Dendam adalah tiket VVIP untuk masuk neraka. Kita diciptakan untuk mengalmai kesalamatan dengan mengampuni kesalahan dan dosa orang lain. Putera Sirakh mengusulkan agar “ingatlah akan akhir hidupmu dan hentikanlah permusuhan, ingatlah akan maut serta pembusukan dan peganglah segala perintah. Mengingat ngerinya maut kita akan didorong untuk mengampuni. Tanpa pengampunan tidak ada masa depan. Pengampunan adalah energi kehidupan yang menghidupkan. Petrus yang sedang marah bertanya kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Bagi orang Yahudi, mengampuni sebanyak 7 kali adalah pengampunan yang penuh. Tetapi apa kata Yesus? “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh.” Pengampunan tidak diukur dari jumlah, frekuensi atau kuantitas, melainkan dari kualitasnya. Pengampunan harus datang dari hati dan tanpa syarat. Realitas kehidupan kerajaan Allah adalah praktek pengampunan yang tanpa syarat. Pengampunan membersihkan kita dari segala dosa-dosa. Allah lebih dahulu mengampuni segala dosa kita tanpa syarat. Kekuatan pengampunan Allah menjadi kekuatan bagi kita untuk mengampuni sesama yang berdosa kepada kita tanpa syarat. Janji pengampunan ini setiap hari kita ucapkan ketika mendoakan Doa Bapa Kami. Meme ini menarik untuk disimak. “Orang lemah balas dendam, orang kuat memaafkan, orang cerdas mengabaikannya.” Allah kita adalah Maharahim. Ia setiap saat mengampuni. Pengampunan sempurna Allah dan tak bersyarat diberikan oleh Yesus sendiri kepada para algojo yang menyalibkan dan membunuhnya, “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Pengampunan adalah tiket paling pasti masuk ke dalam surga. Mari menyimak kisah ini. Tiga orang tamu bertanya kepada Nasruddin yang berilmu tapi aneh. Ketiganya menanyaka hal yang sama. Tamu pertama: “Manakah yang lebih baik, orang yang melakukan dosa besar atau orang yang berbuat dosa kecil?” Nasruddin: “Orang yang berbuat dosa kecil.” Tamu pertama: “Mengapa?” Nasruddin: “Sebab lebih mudah baginya mendapat ampunan Allah.” Tamu pertama puas atas jawaban yang dia terima. Tamu kedua menanyakan yang sama, tapi jawaban Nasruddin berbeda: “Orang yang tidak melakukan dosa kecil dan besar.” “Mengapa?” tanya orang kedua. Nasruddin: “Bila tidak berbuat dosa, tentu tidak memerlukan pengampunan dari Allah.” Dia pun puas menerima jawaban Nasruddin. Tamu ketiga juga mengajukan pertanyaan yang sama. Kali ini jawaban Nasruddin berbeda lagi, berbeda. “Orang yang melakukan dosa besar adalah lebih baik,” jawab Nasruddin. “Mengapa?” tanya tamu ketiga. Nasruddin: “Sebab pengampunan Allah kepada manusia sebanding dengan besarnya dosa jika dia betul-betul bertobat. Betapa bahagia orang yang mendapat pengampunan besar dari Allah.” Tamu ketiga pun puas menerima jawaban pertanyaannya. Seorang murid Nasruddin, yang mendengar semua tanya jawab percakapan gurunya dengan ketiga tamu bingung dan bertanya: “Guru! Mengapa sebuah pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda?" Nasruddin: "Manusia dibagi tiga tingkatan. Tingkatan mata, tingkatan otak, dan tingkatan hati.” Murid: “Apa artinya?” Nasruddin: “Anak kecil yang melihat bintang di langit mengatakan bintang itu kecil karena ia hanya menggunakan mata. Orang pandai yang melihat bintang di langit mengatakan bintang itu besar karena ia berpengetahuan. Orang yang punya hati melihat “esensi” bintang di langit. la mengatakan bintang itu kecil walaupun ia tahu bintang itu besar. Orang yang punya hati mengalami kebesaran Allah dalam pengampunannya dan suka mengampuni orang lain.